This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Senin, 19 Agustus 2013

Dua Genggaman

Dia tak pernah merasakan rasa takut yang teramat sangat seperti ini. Tidak. Mungkin tidak hanya takut, tapi juga sakit, bingung, dan resah. Sekali lagi, sepasang mata kecoklatan yang berada di balik bingkai kacamata itu melirik sedikit ke arah dua pria yang ada di depannya.
Apa yang harus aku dia lakukan? Dan siapa pria yang akan ia kehendaki untuk menggenggam kedua tangannya di masa mendatang?
.
.
.
Semuanya bermula ketika perpisahan itu tiba. Sebuah perpisahan menyakitkan yang menyisakan sebuah janji di dalamnya.
“Suatu saat nanti kita masih bisa kembali bersatu, kan?”
Kala itu, dia tahu hatinya dipenuhi dengan ketidakrelaan untuk melepas sosok pria yang ia cintai. Walaupun terbilang tidak lama, semua kenangan indah itu seolah membekas di relung hatinya hingga membuatnya sulit untuk melepaskannya satu per satu.
“Iya, kita bisa kembali bersatu.”
Dan jawaban yang ia lontarkan saat itulah yang menjadi bomerangnya sekarang. Pertemuannya kembali dengan pria yang pernah ia cintai beberapa hari yang lalu, mau tidak mau menghadirkan kenangan yang pernah bisa ia lupakan untuk sejenak di masa lalu. Dan juga... janji di antara keduanya sebelum memulai perpisahan.
“Siapa yang akan kamu pilih?”
Pertanyaannya yang lagi-lagi terasa menohok itu langsung membuat sang wanita mengangkat kepala dan membuyarkan lamunannya tentang masa lalu. Takut-takut  ia melirik seorang pria lagi yang ada di depannya. Tatapan wanita itu melunak. Entahlah, mungkin juga merasa bersalah saat memperhatikan wajah pria yang sedari tadi diam itu. Ia tahu, pria itu diam bukan karena tidak peduli.
“Bisakah kita menundanya?”
Wanita itu tahu bahwa raut kekecewaan terpancar jelas pada sosok yang menjadi kunci masa lalunya. Namun ia sendiri bisa apa?
“Kamu bener nggak bisa jawab sekarang, Pik?”
Sakit sekali rasanya mendengar pertanyaan itu. Wanita itu merasa bahwa dirinya tak pantas untuk diharapkan kembali oleh pria yang selama ini menunggunya. Menunggunya di saat ia mampu menjawab semua permintaan pria itu dengan ucapan ‘ya’.
“Aku butuh waktu.”
Jawaban yang singkat, namun mampu membuat raut wajah sang pria yang sedari tadi menatapnya dengan penuh harap itu menjadi sendu.
“Aku percaya kamu, Pik,” ucap sang pria sebelum meninggalkannya berdua di sana. Berdua dengan seseorang yang lain.
Hanya ada hening. Baik sang wanita maupun pria tak mampu mengucapkan barang satu kata. Semuanya berlalu begitu cepat, pertemuan, cinta, jalinan kasih, pintu pernikahan, hingga sebuah masa lalu yang datang mengancam. Semua hal itu seolah berputar mengisi keheningan yang kaku di antara keduanya.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanya sang pria.
Sang wanita menatap tak percaya sepasang mata pria yang duduk seraya tersenyum manis di hadapannya. Mengapa mata itu terlihat tenang seperti biasanya? Mata itu seolah menyiratkan bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi di antara mereka. Ya Tuhan, ataukah mata itu berusaha mati-matian untuk menahan semuanya?
“Aku harus bagaimana?”
Perubahan air muka terjadi di wajah sang pria saat pertanyaan itu terlontar sari mulut sang wanita. Menghela napas pelan, ia memilih untuk menundukkan kepalanya. “Semua tergantung di kamu.”
“Kamu tidak menginginkanku?”
Tak di sangka, sang pria mengeluarkan tawa renyahnya. “Tidakkah kamu melihat bagaimana usahaku selama ini untuk mendapatkanmu?”
Giliran sang wanita yang menundukkan kepalanya. Terlalu panjang jika semua hal itu ia kenang sekarang. Pengorbanan, kerelaan, perhatian, cinta, dan komitmen yang diberikan pria di depannya ini pada masa lampau bahkan sanggup membuatnya untuk membuka hati untuk yang kedua kalinya.
“Aku sangat menginginkanmu, Pik. Aku menginginkanmu karena Tuhan.”
Sebaris kalimat itu pada akhirnya mampu menciptakan setetes air mata di kedua mata sang wanita. Pertahanannya runtuh sudah. Keegoisan dan jalan hidup yang harus ia tentukan kini kembali mengoyak batinnya tiada ampun. Pria yang ia cintai karena hatinya, atau pria yang ia cintai karena Tuhannya.
“Aku bimbang,” ucap sang wanita setelah menangis menumpahkan seluruh beban hatinya.
“Semua jawaban berada penuh di tangan kamu,” sahut sang pria. “Apapun jalan yang kamu pilih, semoga itu benar-benar yang terbaik buat kamu.”
“Aku nggak mau menyakiti siapapun.”
Tatapan sang pria tak terbaca sedikit pun oleh sang wanita. Sepasang mata yang selalu menenangkan itu terlihat begitu berat. Kesedihan terpancar jelas di dalamnya.
“Jika nanti bukan aku yang kamu pilih, aku ikhlas.”
Sang wanita mengangkat kepalanya cepat. Lagi-lagi ia tak menyangka jika itu kalimat yang terucap dari sang pria.
“Aku mencintaimu. Selama ini aku selalu yakin kalau kamu pecahan yang lain dari diriku. Walaupun nantinya akan terasa sangat sakit, setidaknya aku ingin kamu selalu mengingatku.” Sang pria menahan kalimatnya untuk mengambil napas. Sesak sekali rasanya, dan ia pun memilih objek lain karena tak sanggup lagi menatap sepasang mata sang wanita. “Kembalilah padanya jika kamu sangat mencintainya. Atau mungkin... jika cintamu padanya lebih besar dari keinginanmu untuk berada di sisiku.”
Kalimat terakhir yang diucapkan sang pria sebelum pergi mampu menciptakan sebuah rasa sakit di dasar perut sang wanita. Tak ayal, air mata itu pun kembali menunjukkan kebimbangannya.
.
.
.
Ya Tuhan... mengapa Kau gariskan aku takdir seperti ini? Mengapa Kau membuatku mengenal makna cinta di masa lalu jika pada akhirnya Kau pisahkan aku dengan cinta itu? Lalu setelah semuanya berlalu, mengapa Kau kembali mempertemukan aku dengan ketulusan yang tiada tara jika pada akhirnya aku dihadapkan pada pilihan menyakitkan seperti ini? Aku mencintai keduanya, namun aku juga tak bisa memiliki kedua-duanya.

Siapa yang harus aku genggam?