Bertambah umur harusnya bisa membuat saya lebih dewasa lagi dalam mengatasi masalah. Selain itu saya juga harus lebih kuat dan nggak gampang menyerah sebelum bertempur. Hmmm... terkadang saya bingung dengan pola pikir saya sendiri. Menurut saya, saya adalah orang yang tidak mempunyai komitmen yang cukup tinggi.
3 Desember kemarin umur saya bertambah menjadi 18 tahun. Setidaknya saya harus menjadi pribadi yang lebih baik di umur yang sekarang. Keuletan, komitmen, mimpi... apapun itu, harusnya lebih baik dari umur sebelumnya. Tapi nggak tau kenapa kok rasanya saya ini malah down yah? Semacam hilang kepercayaan diri sebelum mewujudkan keinginan saya satu per satu. Dari sisi lingkungan, ada beberapa pihak yang mendukung saya dan memacu saya, namun di sisi satunya lagi malah membuat saya melupakan impian saya satu per satu.
Terkadang kalau saya benar-benar menyerah akan mimpi saya, saya akan membukanya lagi. Mengumpulkan semangat hingga saya memiliki kekuatan untuk melumpuhkan rasa menyerah saya. Tapi itu hanya berlangsung sekejap. Sama sekali tidak lama, dan sama sekali tidak membantu saya untuk bergerak walau hanya satu langkah.
Jika seperti ini, saya berpikir apakah saya perlu motivator? Setidaknya, selalu ada orang yang mengingatkan san mendukung saya. Hmmm... kayaknya sekarang saya nggak bakalan sanggup untuk membayar Mario Teguh mengeluarkan mantranya walau hanya satu episode. Lalu apa? Sedemikian perlukah saya akan keberadaan seorang motivator?
Mungkin tidak.
Tulisan saya bisa jadi motivator saya. Tulisan saya adalah refleksi dari apa yang saya renungkan dan inginkan. Jadi Amel, jika kau ingin menyerah atau bahkan sudah merasa menyerah, ingatlah janji yang kau ucapkan di bawah ini.
"AKU, SEORANG AMALIA IRAWATI, AKAN SELALU BERUSAHA MENCAPAI SEMUA IMPIANKU SATU PER SATU. TIDAK ADA KATA MENYERAH, YANG ADA HANYALAH TERUSLAH BERUSAHA. BUATLAH BANGGA ORANG-ORANG YANG MENYAYANGIMU, DAN BUATLAH TERPACU UNTUK ORANG-ORANG YANG BELUM MENYAYANGIMU."
-RAWKS
This is my life
Just me, my Lord, and my life story...
Sabtu, 08 Desember 2012
Senin, 26 November 2012
Suroboyo dan JANCOK-nya
Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini juga merupakan ibu kota dari propinsi Jawa Timur. Jika bicara tentang Surabaya, pasti yang terngiang pertama di otak kita adalah Kota Pahlawan. Mungkin selain sebutan itu, hal yang terlintas di otak kita ketika mendengar nama Surabaya adalah Suramadu, rujak cingur, Bonek, dan masih banyak. Yaah, saya membenarkan itu semua karena Surabaya memang identik dengan hal itu.
Namun jika kita mengenal Surabaya lebih dalam lagi, kita akan menemukan satu kata yang sangat khas dengan kultur arek-arek Suroboyo. Sudah menemukan jawabannya? ;) Sebutin aja! Nggak usah berpikiran dosa, toh kita nyebutinnya nggak ada niat jelek toh? ;)
Bagi yang udah tahu, selamat! Tapi yang belum tahu, jawabannya adalah...
JANCOK
Nggak ada yang tahu secara resmi kata Jancok itu dibawa oleh siapa, lahir tahun berapa, kapan mulai ada dan asal mulanya bagaimana. Yang saya tahu bahwa, Jancok itu tumbuh dan menjadi trademark orang Surabaya. Namun ada yang mengatakan bahwa kata Jancok berasal dari kata 'encuk' yang berarti bersetubuh.
Banyak orang yang mengasumsikan bahwa kata Jancok itu adalah salah satu kata yang kasar, kata umpatan yang sama sekali tidak sopan dan tidak baik untuk diucapkan maupun didengar. Tak ada yang salah dengan asumsi mereka, toh itu semua memang hak mereka sendiri. Saya pun kadang juga berpikiran sama. Kadang kata Jancok itu terucap jika kita dalam posisi marah ataupun jengkel. Namun jika saya berkumpul dengan teman saya, entah mengapa saya merasa Jancok itu menjadi pengerat hubungan pertemanan.
Kata Jancok itu nggak selamanya bikin orang yang mendengarnya risih. Ada kalanya Jancok terdengar begitu indah (?) ketika diiringi gelak tawa orangnya. Karena tak jarang pula Jancok diucapkan ketika seseorang tengah merasa geli akan suatu hal, ataupun ketika bahagia.
Surabaya dan Jancok itu adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Tak akan ramai jika tak ada Jancok di Surabaya, dan tak akan ada Jancok jika tidak ada Surabaya. Jika di lain kota kita terbiasa mendengar anak-anak remaja menyapa temannya dengan sapaan 'bro, man, sis, cuy' di Surabaya akan terdengar alunan kata yang sangat khas, seperti "He yok opo kabare, Cok? Sek urip ae kon, Cok. Suwi gak ndelok raimu, Cok." Terdengar sangat kasar ya? Memang. Orang Surabaya terkenal dengan bahasanya yang kasar dan intonasi yang tidak bisa dibilang wajar. Namun sebagai orang yang dikatai seperti rentetan kata kasar di atas, biasanya tidak akan marah. Banyak diantaranya yang tersenyum, bahkan ketawa, karena yang disapa adalah temannya sendiri, jadi pasti tidak akan marah. Hehehehehe
Jancok telah menyebar di kota-kota bahkan propinsi lainnya. Tak hanya sampai Jawa Timur saja, propinsi lain pun sudah mengenal kata yang cukup khas dari Surabaya ini.
Sekian
RAWKS
Sabtu, 24 November 2012
Malaikat... dan Setanmu
Salah. Ini benar-benar salah.
Hina. Ini benar-benar hina
Namun aku bisa apa?
Semuanya datang begitu saja.
...menggoda hatiku
...menyentuh
...dan menarikku untuk jatuh ke dalamnya.
Aku dan kau adalah satu hal yang salah,
...hanya dia yang menjadi cahaya benarnya.
Sampai kapan hal nista ini tak diketahui olehnya yang seperti malaikat?
Malaikat yang selalu mencintaimu...
menyambut kedatanganmu...
melayani segala kebutuhanmu...
menerimamu...
...dan malaikat yang telah rapuh hatinya karena ulahmu.
Aku tidaklah sebaik malaikatmu.
Aku hanya setan yang yang telah merusak hidupmu
...dan hidup malaikatmu.
Namun mengapa kau lebih terjerat oleh setan sepertiku?
Mengapa kau mencampakkan malaikatmu demi makhluk hina sepertiku?
Dan mengapa pula...
...aku terjebak ke dalam nikmatnya rengkuhanmu?
Salah. Ini semua benar-benar salah.
Hina. Ini benar-benar hina
Namun aku bisa apa?
Semuanya datang begitu saja.
...menggoda hatiku
...menyentuh
...dan menarikku untuk jatuh ke dalamnya.
Aku dan kau adalah satu hal yang salah,
...hanya dia yang menjadi cahaya benarnya.
Sampai kapan hal nista ini tak diketahui olehnya yang seperti malaikat?
Malaikat yang selalu mencintaimu...
menyambut kedatanganmu...
melayani segala kebutuhanmu...
menerimamu...
...dan malaikat yang telah rapuh hatinya karena ulahmu.
Aku tidaklah sebaik malaikatmu.
Aku hanya setan yang yang telah merusak hidupmu
...dan hidup malaikatmu.
Namun mengapa kau lebih terjerat oleh setan sepertiku?
Mengapa kau mencampakkan malaikatmu demi makhluk hina sepertiku?
Dan mengapa pula...
...aku terjebak ke dalam nikmatnya rengkuhanmu?
Salah. Ini semua benar-benar salah.
-RAWKS-
Rabu, 21 November 2012
Aku ♥ hujan
Indah, kan?
Hujan...
Dia sering membuatku bahagia. Seluruh kegundahan hati akan tersapu oleh rintikan hujan yang mengalir dari atas kepala hingga kaki.
Hujan...
Jika benar-benar diamati, hujan terlihat begitu indah. Setiap tetesannya yang mendarat di kaca, akan membuat sebuah pemandangan baru yang abstrak tentang dunia di luar kita.
Namun... hujan tidak selalu membawa sesuatu yang kusuka. Mungkin tidak hanya aku, tetapi juga untuk orang lain.
Hujan akan menjadi sesuatu yang menjengkelkan ketika turun pada momen yang sangat tidak tepat. Segala macam umpatan kasar bisa saja terlontar dari mulut kita terhadap fenomena Tuhan yang satu itu. Atau mungkin, kita akan mengutuk hujan jika ia menciptakan genangan air yang menyusahkan.
-RAWKS-
Senin, 05 November 2012
Orang Kecil Nggak Selamanya Teraniaya
Orang
kecil itu kadang identik dengan sebuah kalimat atau kata yang bisa bikin kita
nyesek karena kasian. Tapi tau nggak kalo orang yang bertubuh mungil itu nggak
selamanya seperti itu? Justru dengan kemungilannya, orang kecil bisa berjaya di
atas orang-orang yang punya tubuh lebih gede dari dia. Salah satu yang membuat
si ‘tubuh mungil’ ini bisa tersenyum lebar karena merasa menang adalah
kepandaiannya menyerobot.
Yak,
menyerobot. Entah emang nggak ngerasa menyerobot, atau emang dia udah punya
niatan menyerobot sejak awal, orang bertubuh kecil selalu mempunyai kesempatan
buat ngelakuin hal itu dimanapun. Toilet umum, apotek, toko-toko kecil atau
besar, sampai pasar.
Kalo
ada yang sopan sih, sempet ngucapin maaf sambil nyari-nyari alasan kayak ‘Nenek
saya udah nunggu lama di sepeda motor, Mbak!’. ‘Pacar saya orangnya gampang
marah Mas, kalo saya terlalu lama’ atau yang paling to the point adalah ‘Saya duluan
ya, Dek? Udah di ujung ini soalnya.’
Sebagai
pemuda pemudi yang baik dan berperasaan, tentu kita akan iba kalo ada orang yang
lebih kecil dari kita memohon untuk didahulukan dengan tampang puppy eyes-nya.
Yaah, walaopun agak dongkol, tapi... okelah kita terima. Walopun, yah.... nggak
rela juga sih sebenarnya.
Tapi
yang bikin lebih duongkol lagi adalah orang kecil yang menyerobot tanpa minta
izin atau maaf sedikitpun. Dengan lihai, si ‘tubuh mungil’ ini langsung aja
nyelonong di depan kita yang udah antri lama banget. Ada niatan pengen negur,
tapi pasti jadi rumit. Diserobot ganti, ntar dia jatoh tak berdaya dan
orang-orang ngira pasti kita udah KDAP (Kekerasan Dalam Antrian Panjang). Dijitak,
juga nggak tega. Serba salah deh pokoknya!
Nah,
apa kamu seseorang dengan tubuh mungil yang suka menyerobot itu? Kalo emang
iya, cepet sono insyaf sebelum kamu ganti diserobot pas masuk surga!
Sabtu, 27 Oktober 2012
My New Life is My New Dream
I'm baaaaaaaaaaaack...
Hehehe, hola. Saya kembali loh, dengan mimpi, kehidupan, dan warna yang baru di kehidupan saya. Dari awal, sedikit demi sedikit saya mulai membangun apa yang saya impikan. Yaaah, walaupun dampaknya nggak secara langsung terlihat, tapi cepat atau lambat saya akan berusaha untuk mewujudkan itu semua :)
Saya sekarang udah nggak jadi siswa, tapi mahasiswa. Haha, gaya ya saya? Awalnya saya mikir mahasiswa itu kece. Pake almamater, dan bisa demo kemana-mana ngeluarin aspirasi mereka. Tapi setelah tahu dan lebih paham apa yang namanya mahasiswa, pemahaman saya tentang itu semua buyar. Haha, buat saya ada yang lebih penting lagi daripada itu.
Saya sekolah di perguruan tinggi Ilmu Komunikasi. Katanya sih sekolah saya itu perguruan tinggi komunikasi tertua di Jatim, selain itu lulusannya juga oke dan banyak dicari media. Tapi semua itu tergantung kita-nya sendiri sih! Sebagus apapun sekolahnya, dosennya, fasilitasnya... apapun deh, nggak akan bisa menjadi jaminan kita untuk sukses. Sukses berada di tangan kita sendiri.
Ngomongin mimpi... mimpi saya banyak banget. Saya pengen jadi penulis. Jadi orang media. Saya juga pengen punya sekolah bola, dan cafe yang jadi satu dengan studio foto. Mungkin seiring berjalannya waktu, mimpi saya akan semakin banyak dan banyak lagi, hehe. Wajar kok! Manusia kan emang nggak pernah puas dengan apa yang dia raih, dan saya rasa itu hal yang baik. Asalkaaaaaan, masih berada dalam koridor positif :)
Hehehe, hola. Saya kembali loh, dengan mimpi, kehidupan, dan warna yang baru di kehidupan saya. Dari awal, sedikit demi sedikit saya mulai membangun apa yang saya impikan. Yaaah, walaupun dampaknya nggak secara langsung terlihat, tapi cepat atau lambat saya akan berusaha untuk mewujudkan itu semua :)
Saya sekarang udah nggak jadi siswa, tapi mahasiswa. Haha, gaya ya saya? Awalnya saya mikir mahasiswa itu kece. Pake almamater, dan bisa demo kemana-mana ngeluarin aspirasi mereka. Tapi setelah tahu dan lebih paham apa yang namanya mahasiswa, pemahaman saya tentang itu semua buyar. Haha, buat saya ada yang lebih penting lagi daripada itu.
Saya sekolah di perguruan tinggi Ilmu Komunikasi. Katanya sih sekolah saya itu perguruan tinggi komunikasi tertua di Jatim, selain itu lulusannya juga oke dan banyak dicari media. Tapi semua itu tergantung kita-nya sendiri sih! Sebagus apapun sekolahnya, dosennya, fasilitasnya... apapun deh, nggak akan bisa menjadi jaminan kita untuk sukses. Sukses berada di tangan kita sendiri.
Ngomongin mimpi... mimpi saya banyak banget. Saya pengen jadi penulis. Jadi orang media. Saya juga pengen punya sekolah bola, dan cafe yang jadi satu dengan studio foto. Mungkin seiring berjalannya waktu, mimpi saya akan semakin banyak dan banyak lagi, hehe. Wajar kok! Manusia kan emang nggak pernah puas dengan apa yang dia raih, dan saya rasa itu hal yang baik. Asalkaaaaaan, masih berada dalam koridor positif :)
Foto saya waktu OPSPEK XD
Wkwkwkwkwk
Langganan:
Komentar (Atom)




