This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Senin, 26 November 2012

Suroboyo dan JANCOK-nya

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini juga merupakan ibu kota dari propinsi Jawa Timur. Jika bicara tentang Surabaya, pasti yang terngiang pertama di otak kita adalah Kota Pahlawan. Mungkin selain sebutan itu, hal yang terlintas di otak kita ketika mendengar nama Surabaya adalah Suramadu, rujak cingur, Bonek, dan masih banyak. Yaah, saya membenarkan itu semua karena Surabaya memang identik dengan hal itu.

Namun jika kita mengenal Surabaya lebih dalam lagi, kita akan menemukan satu kata yang sangat khas dengan kultur arek-arek Suroboyo. Sudah menemukan jawabannya? ;) Sebutin aja! Nggak usah berpikiran dosa, toh kita nyebutinnya nggak ada niat jelek toh? ;)

Bagi yang udah tahu, selamat! Tapi yang belum tahu, jawabannya adalah...

JANCOK

Nggak ada yang tahu secara resmi kata Jancok itu dibawa oleh siapa, lahir tahun berapa, kapan mulai ada dan asal mulanya bagaimana. Yang saya tahu bahwa, Jancok itu tumbuh dan menjadi trademark orang Surabaya. Namun ada yang mengatakan bahwa kata Jancok berasal dari kata 'encuk' yang berarti bersetubuh.

Banyak orang yang mengasumsikan bahwa kata Jancok itu adalah salah satu kata yang kasar, kata umpatan yang sama sekali tidak sopan dan tidak baik untuk diucapkan maupun didengar. Tak ada yang salah dengan asumsi mereka, toh itu semua memang hak mereka sendiri. Saya pun kadang juga berpikiran sama. Kadang kata Jancok itu terucap jika kita dalam posisi marah ataupun jengkel. Namun jika saya berkumpul dengan teman saya, entah mengapa saya merasa Jancok itu menjadi pengerat hubungan pertemanan.

Kata Jancok itu nggak selamanya bikin orang yang mendengarnya risih. Ada kalanya Jancok terdengar begitu indah (?) ketika diiringi gelak tawa orangnya. Karena tak jarang  pula Jancok diucapkan ketika seseorang tengah merasa geli akan suatu hal, ataupun ketika bahagia.

Surabaya dan Jancok itu adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Tak akan ramai jika tak ada Jancok di Surabaya, dan tak akan ada Jancok jika tidak ada Surabaya. Jika di lain kota kita terbiasa mendengar anak-anak remaja menyapa temannya dengan sapaan 'bro, man, sis, cuy' di Surabaya akan terdengar alunan kata yang sangat khas, seperti "He yok opo kabare, Cok? Sek urip ae kon, Cok. Suwi gak ndelok raimu, Cok." Terdengar sangat kasar ya? Memang. Orang Surabaya terkenal dengan bahasanya yang kasar dan intonasi yang tidak bisa dibilang wajar. Namun sebagai orang yang dikatai seperti rentetan kata kasar di atas, biasanya tidak akan marah. Banyak diantaranya yang tersenyum, bahkan ketawa, karena yang disapa adalah temannya sendiri, jadi pasti tidak akan marah. Hehehehehe

Jancok telah menyebar di kota-kota bahkan propinsi lainnya. Tak hanya sampai Jawa Timur saja, propinsi lain pun sudah mengenal kata yang cukup khas dari Surabaya ini.
Sekian



RAWKS

Sabtu, 24 November 2012

Malaikat... dan Setanmu

Salah. Ini benar-benar salah.

Hina. Ini benar-benar hina

Namun aku bisa apa?

Semuanya datang begitu saja.

...menggoda hatiku

...menyentuh

...dan menarikku untuk jatuh ke dalamnya.

Aku dan kau adalah satu hal yang salah,

...hanya dia yang menjadi cahaya benarnya.

Sampai kapan hal nista ini tak diketahui olehnya yang seperti malaikat?

Malaikat yang selalu mencintaimu...

menyambut kedatanganmu...

melayani segala kebutuhanmu...

menerimamu...

...dan malaikat yang telah rapuh hatinya karena ulahmu.

Aku tidaklah sebaik malaikatmu.

Aku hanya setan yang yang telah merusak hidupmu

...dan hidup malaikatmu.

Namun mengapa kau lebih terjerat oleh setan sepertiku?

Mengapa kau mencampakkan malaikatmu demi makhluk hina sepertiku?

Dan mengapa pula...

...aku terjebak ke dalam nikmatnya rengkuhanmu?



Salah. Ini semua benar-benar salah.






-RAWKS-


Rabu, 21 November 2012

Aku ♥ hujan

Indah, kan?


Memasuki bulan-bulan akhir seperti ini, aku sangat menunggu momen dimana aku bisa merasakan rintikan hujan kembali. Aku suka mengamati setiap tetesannya yang membasahi bumi, aroma khas-nya yang yang mengundang indera penciumanku untuk terus mengendusnya, dan sensasi lain ketika aku merasakan jutaan tetesannya di kulitku.

Hujan...

Dia sering membuatku bahagia. Seluruh kegundahan hati akan tersapu oleh rintikan hujan yang mengalir dari atas kepala hingga kaki.





Hujan...

Jika benar-benar diamati, hujan terlihat begitu indah. Setiap tetesannya yang mendarat di kaca, akan membuat sebuah pemandangan baru yang abstrak tentang dunia di luar kita.





Namun... hujan tidak selalu membawa sesuatu yang kusuka. Mungkin tidak hanya aku, tetapi juga untuk orang lain.

Hujan akan menjadi sesuatu yang menjengkelkan ketika turun pada momen yang sangat tidak tepat. Segala macam umpatan kasar bisa saja terlontar dari mulut kita terhadap fenomena Tuhan yang satu itu. Atau mungkin, kita akan mengutuk hujan jika ia menciptakan genangan air yang menyusahkan.





-RAWKS-

Senin, 05 November 2012

Orang Kecil Nggak Selamanya Teraniaya


Orang kecil itu kadang identik dengan sebuah kalimat atau kata yang bisa bikin kita nyesek karena kasian. Tapi tau nggak kalo orang yang bertubuh mungil itu nggak selamanya seperti itu? Justru dengan kemungilannya, orang kecil bisa berjaya di atas orang-orang yang punya tubuh lebih gede dari dia. Salah satu yang membuat si ‘tubuh mungil’ ini bisa tersenyum lebar karena merasa menang adalah kepandaiannya menyerobot.
Yak, menyerobot. Entah emang nggak ngerasa menyerobot, atau emang dia udah punya niatan menyerobot sejak awal, orang bertubuh kecil selalu mempunyai kesempatan buat ngelakuin hal itu dimanapun. Toilet umum, apotek, toko-toko kecil atau besar, sampai pasar.
Kalo ada yang sopan sih, sempet ngucapin maaf sambil nyari-nyari alasan kayak ‘Nenek saya udah nunggu lama di sepeda motor, Mbak!’. ‘Pacar saya orangnya gampang marah Mas, kalo saya terlalu lama’ atau yang paling to the point adalah ‘Saya duluan ya, Dek? Udah di ujung ini soalnya.’
Sebagai pemuda pemudi yang baik dan berperasaan, tentu kita akan iba kalo ada orang yang lebih kecil dari kita memohon untuk didahulukan dengan tampang puppy eyes-nya. Yaah, walaopun agak dongkol, tapi... okelah kita terima. Walopun, yah.... nggak rela juga sih sebenarnya.
Tapi yang bikin lebih duongkol lagi adalah orang kecil yang menyerobot tanpa minta izin atau maaf sedikitpun. Dengan lihai, si ‘tubuh mungil’ ini langsung aja nyelonong di depan kita yang udah antri lama banget. Ada niatan pengen negur, tapi pasti jadi rumit. Diserobot ganti, ntar dia jatoh tak berdaya dan orang-orang ngira pasti kita udah KDAP (Kekerasan Dalam Antrian Panjang). Dijitak, juga nggak tega. Serba salah deh pokoknya!
Nah, apa kamu seseorang dengan tubuh mungil yang suka menyerobot itu? Kalo emang iya, cepet sono insyaf sebelum kamu ganti diserobot pas masuk surga!