This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Kamis, 14 Mei 2015

Pemenang

Aku adalah pemenang. Aku tidak hina, hanya orang-orang yang tidak lebih unggul dariku saja yang menyebutku seperti itu. Kasihan, mereka kalah, dan mereka mencaci. Mencaci diriku, yang seorang pemenang. Jadi, siapa yang sebenarnya hina disini?

Aku menatap pantulan tubuhku di cermin. Sebelah tanganku terangkat untuk menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Sudut bibirku yang terhias gincu merah menyala terangkat sebelah.

Aku adalah pemenang. Aku dilahirkan sebagai seorang pemenang. Pemenang pada hakikatnya adalah orang yang unggul dari lawannya, dan itulah aku. Aku unggul. Unggul dari satu, beberapa, hingga semua sisi kelemahan lawan-lawanku. Sekali lagi, dengan bangga aku menyatakan bahwa aku adalah pemenang.

Pintu terbuka, dan suara decitan engselnya yang mungkin sudah tua membuatku menoleh ke sumber suara. Seorang pria dengan setelan kemeja kerja yang masih lengkap dasi panjangnya berdiri mematung di sana. Ia terlihat lelah. Mata kecoklatannya tampak sayu, lingkaran hitam pun menggelayut tepat di bawah matanya. Dan rambutnya yang berantakan, hm… entahlah. Aku mungkin tak pernah merasakan lelah yang seperti itu.

“Aku datang,” ucapnya.

Aku tersenyum. Dengan senyum kemenangan ini, aku berdiri dan mendekatinya perlahan. “Aku selalu menyambut kedatanganmu,” ucapku tanpa sedikitpun memudarkan senyumanku.

Pria itu masuk, dan menutup pintu di belakangnya saat aku berhenti melangkah. Dengan gontai, pria itu berjalan mendekatiku dan berhenti tepat di depanku. Dekat sekali.

Tanganku terangkat untuk melonggarkan dasinya. “Kau ingin mandi?”

Dia menggeleng. “Aku sudah mandi di kantor.”

“Lalu kenapa kau terlihat berantakan seperti ini?”

Dia tak menjawab, melainkan hanya menatap mataku semakin dalam. Aku pun turut menatapnya, mencoba untuk menggali apa yang yang kini tengah mengganjalnya.

“Ada apa?” tanyaku. “Kau yang menyuruhku datang ke hotel ini, tapi kau sendiri seakan tak ingin membaginya denganku.”

“Apa istriku menemuimu?” tanyanya cepat.

Aku terbelalak, aku memang terkejut dengan pertanyaannya. Namun aku adalah pemenang. Dengan perlahan, senyum kemenanganku kembali tercetak.

“Tidak, dia hanya baru menghubungiku.”

“Kapan?” Pria-ku ini kembali bertanya. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat ekspresinya tidak sabarannya.

“Tadi siang.”

“Lalu?”

Alisku menaut kali ini. “Kau ini kenapa? Aku datang kesini bukan hanya untuk membicarakan wanita itu.”

“Jawab saja pertanyaanku! Aku hanya tidak ingin kalian saling menyakiti.”

“Saling menyakiti?” tanyaku tenang. “Untuk apa saling menyakiti?”

Dia membuka tutup bibirnya, namun  tak ada satupun kata yang keluar dari sana. Aku paham dia ingin bicara, aku pun menunggu walaupun  itu harus melewatkan dua langkah jarum terpanjang jam dinding. Hingga pada akhirnya, dia menyerah dan mendudukkan tubuhnya di ranjang.

Dia mengusap wajahnya frustasi dan meletakkan kedua telapak tangannya di tengkuk. Dia menunduk. Kudekatkan tubuhku dengannya. Tepat di depannya, aku berjongkok dan mengusap punggung lebarnya yang selalu aku suka.

“Aku mencintaimu, dan tidak ingin kau dihina siapapun,” ucapnya seraya masih menunduk, lirih sekali.

Lagi-lagi aku terrsenyum. “Istrimu tidak akan menghinaku. Dia tak pantas melakukan itu.”

Pria-ku mengangkat wajahnya dan menatapku penuh tanda tanya.

“Aku… jauh lebih unggul darinya,” ucapku dengan penekanan pelan di setiap kata. “Dan kau pantas memiliki aku.”

Dia tidak bersuara, melainkan terus menatapku dengan ketidakpahamannya. Baru saja ia membuka mulutnya, aku mendahuluinya.

“Pernahkan kau berpikir alasan apa yang membuatmu datang padaku?” tanyaku pelan.

Tak ada jawaban.

Aku mendekatkan kepalaku ke telinganya. “Karena aku jauh lebih bisa melengkapimu,” bisikku bangga.

Dia hanya menatapku saat aku menjauhkan kepala. Aku memberikannya sebuah senyuman setulus mungkin.

“Sejujurnya aku tak butuh ungkapan cintamu. Tanpa mengatakannya pun, aku sudah tau bahwa semua hal tentang dirimu membutuhkanku.” Jemariku bergerak mengusap lembut kedua tangannya yang masih bertaut. “Jika menurut orang lain aku salah, aku tidak merasa begitu. Justru istrimu lah yang salah karena dia tak sanggup untuk melengkapimu.”

Hanya ada hening. Selama beberapa saat, kami hanya saling bertatap mata dan mencoba untuk saling membaca pikiran lewat sana.

“Terimakasih.”

Kata itulah yang pertama terucap. Aku tersenyum, membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang.
“Hanya pemenang yang bisa melengkapimu,” tutupku sebelum aku semakin mendekatkan tubuhku 
kepadanya. Hanya padanya.
.
.
.
.
.
.
.

Akulah sang pemenang.

.
.
.
.
.
-RAWKS-