Aku adalah pemenang. Aku tidak hina, hanya orang-orang yang
tidak lebih unggul dariku saja yang menyebutku seperti itu. Kasihan, mereka
kalah, dan mereka mencaci. Mencaci diriku, yang seorang pemenang. Jadi, siapa
yang sebenarnya hina disini?
Aku menatap pantulan tubuhku di cermin. Sebelah tanganku
terangkat untuk menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Sudut bibirku yang
terhias gincu merah menyala terangkat sebelah.
Aku adalah pemenang. Aku dilahirkan sebagai seorang
pemenang. Pemenang pada hakikatnya adalah orang yang unggul dari lawannya, dan
itulah aku. Aku unggul. Unggul dari satu, beberapa, hingga semua sisi kelemahan
lawan-lawanku. Sekali lagi, dengan bangga aku menyatakan bahwa aku adalah
pemenang.
Pintu terbuka, dan suara decitan engselnya yang mungkin
sudah tua membuatku menoleh ke sumber suara. Seorang pria dengan setelan kemeja kerja yang masih lengkap
dasi panjangnya berdiri mematung di sana. Ia terlihat lelah. Mata kecoklatannya
tampak sayu, lingkaran hitam pun menggelayut tepat di bawah matanya. Dan
rambutnya yang berantakan, hm… entahlah. Aku mungkin tak pernah merasakan lelah
yang seperti itu.
“Aku datang,” ucapnya.
Aku tersenyum. Dengan senyum kemenangan ini, aku berdiri dan
mendekatinya perlahan. “Aku selalu menyambut kedatanganmu,” ucapku tanpa
sedikitpun memudarkan senyumanku.
Pria itu masuk, dan menutup pintu di belakangnya saat aku
berhenti melangkah. Dengan gontai, pria itu berjalan mendekatiku dan berhenti
tepat di depanku. Dekat sekali.
Tanganku terangkat untuk melonggarkan dasinya. “Kau ingin
mandi?”
Dia menggeleng. “Aku sudah mandi di kantor.”
“Lalu kenapa kau terlihat berantakan seperti ini?”
Dia tak menjawab, melainkan hanya menatap mataku semakin
dalam. Aku pun turut menatapnya, mencoba untuk menggali apa yang yang kini
tengah mengganjalnya.
“Ada apa?” tanyaku. “Kau yang menyuruhku datang ke hotel
ini, tapi kau sendiri seakan tak ingin membaginya denganku.”
“Apa istriku menemuimu?” tanyanya cepat.
Aku terbelalak, aku memang terkejut dengan pertanyaannya.
Namun aku adalah pemenang. Dengan perlahan, senyum kemenanganku kembali
tercetak.
“Tidak, dia hanya baru menghubungiku.”
“Kapan?” Pria-ku ini kembali bertanya. Sebenarnya aku ingin
tertawa melihat ekspresinya tidak sabarannya.
“Tadi siang.”
“Lalu?”
Alisku menaut kali ini. “Kau ini kenapa? Aku datang kesini bukan
hanya untuk membicarakan wanita itu.”
“Jawab saja pertanyaanku! Aku hanya tidak ingin kalian
saling menyakiti.”
“Saling menyakiti?” tanyaku tenang. “Untuk apa saling
menyakiti?”
Dia membuka tutup bibirnya, namun tak ada satupun kata yang keluar dari sana.
Aku paham dia ingin bicara, aku pun menunggu walaupun itu harus melewatkan dua langkah jarum
terpanjang jam dinding. Hingga pada akhirnya, dia menyerah dan mendudukkan
tubuhnya di ranjang.
Dia mengusap wajahnya frustasi dan meletakkan kedua telapak tangannya
di tengkuk. Dia menunduk. Kudekatkan tubuhku dengannya. Tepat di depannya, aku
berjongkok dan mengusap punggung lebarnya yang selalu aku suka.
“Aku mencintaimu, dan tidak ingin kau dihina siapapun,”
ucapnya seraya masih menunduk, lirih sekali.
Lagi-lagi aku terrsenyum. “Istrimu tidak akan menghinaku.
Dia tak pantas melakukan itu.”
Pria-ku mengangkat wajahnya dan menatapku penuh tanda tanya.
“Aku… jauh lebih unggul darinya,” ucapku dengan penekanan
pelan di setiap kata. “Dan kau pantas memiliki aku.”
Dia tidak bersuara, melainkan terus menatapku dengan
ketidakpahamannya. Baru saja ia membuka mulutnya, aku mendahuluinya.
“Pernahkan kau berpikir alasan apa yang membuatmu datang
padaku?” tanyaku pelan.
Tak ada jawaban.
Aku mendekatkan kepalaku ke telinganya. “Karena aku jauh
lebih bisa melengkapimu,” bisikku bangga.
Dia hanya menatapku saat aku menjauhkan kepala. Aku
memberikannya sebuah senyuman setulus mungkin.
“Sejujurnya aku tak butuh ungkapan cintamu. Tanpa
mengatakannya pun, aku sudah tau bahwa semua hal tentang dirimu membutuhkanku.”
Jemariku bergerak mengusap lembut kedua tangannya yang masih bertaut. “Jika
menurut orang lain aku salah, aku tidak merasa begitu. Justru istrimu lah yang
salah karena dia tak sanggup untuk melengkapimu.”
Hanya ada hening. Selama beberapa saat, kami hanya saling
bertatap mata dan mencoba untuk saling membaca pikiran lewat sana.
“Terimakasih.”
Kata itulah yang pertama terucap. Aku tersenyum, membelai
wajahnya dengan penuh kasih sayang.
“Hanya pemenang yang bisa melengkapimu,” tutupku sebelum aku
semakin mendekatkan tubuhku
kepadanya. Hanya padanya.
.
.
.
.
.
.
.
Akulah sang pemenang.
.
.
.
.
.
-RAWKS-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar