Untuk yang kesekian kalinya Kirana menghembuskan napasnya kasar. Hari ini adalah hari yang sangat tidak bersahabat baginya. Hari dimana ia memulai pengalaman baru sebagai siswa SMK, ternyata membuat dirinya semakin merasa asing seperti biasanya.
Kirana memperhatikan beberapa cewek yang sedang mengobrol sambil sesekali tertawa di meja kantin. Entah apa yang mereka bicarakan, Kirana tidak begitu tertarik. Tiga hari menjalani masa orientasi membuatnya sedikit mengenal para cewek-cewek itu. Banyak diantara mereka bertingkah sok pemberani dan sok pemberontak. Tidak ditunjukkan secara langsung pun, Kirana dapat memahami hal itu dari cara mereka berbicara. Klasik. Setiap orang pasti akan menunjukkan kesan mengagumkan tentang dirinya pada saat awal perkenalan. Kirana yakin, empat bulan setelah perkenalan awal, mereka pasti akan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
Angin yang berhembus pelan mengibarkan rambut sebahu Kirana yang dikuncir satu di belakang rambutnya. Nyaman sekali duduk sendirian di bawah pohon seperti ini. Walaupun sedari tadi banyak yang memandangnya heran, Kirana mencoba tak ambil peduli.
"Kirana?"
Kirana menoleh. Terlihat seorang cewek berambut panjang melambaikan tangan sambil mendekat ke arahnya. Wajah cewek ini tak asing bagi Kirana.
"Kamu ngapain di sini?"
Ooh... Kirana ingat. Cewek ini salah satu teman sekelasnya yang baru. Tapi siapa ya namanya? "Duduk-duduk aja cari angin."
Cewek itu ngangguk paham. Dia pun turut duduk di samping Kirana. "Mana Shasa?"
Kirana sedikit terkejut saat cewek di depannya ini menanyakan teman sebangkunya yang baru. Ia pun mengedikkan dagunya ke arah kantin. "Tadi dia di sana, tapi gak tau sekarang di mana."
"Kamu nggak ke sana?"
"Males."
"Kenapa?"
"Di sana rame banget. Eh, nama kamu siapa? Aku lupa." Bohong. Yang benar adalah tidak tahu, bukan lupa.
Cewek itu tersenyum. "Mira."
"Oh iya. Mira," ucap Kirana sambil menepuk jidatnya seolah-olah teringat sesuatu. Akting yang buruk.
"Trus kamu gak jajan nih? Lima menit lagi masuk kelas loh."
Kirana diam. Menimbang apa lebih mementingkan rasa malasnya untuk ke kantin, atau keadaan perutnya yang keroncongan.
"Kalau males ke kantin, kita cari di depan aja," ucap Mira seolah-olah paham tentang apa yang dipikirkan Kirana.
"Ada pentol gak sih di depan?"
"Ada. Cireng, batagor, otak-otak, siomay, semua ada."
Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung saja mengamit tangan Mira dan mengajak cewek itu pergi dari sana. Di pikirannya, kini terbayang rasa pentol yang sebentar lagi akan dia rasakan. Dikatakan maniak pentol pun, Kirana menerima julukan itu dengan senang hati karena memang begitulah sebenarnya.
Namun apa yang diharapkan Kirana tak seperti apa yang terjadi sekarang. Kirana pun berhenti tak jauh dari gerbang sekolahnya dengan masih memegang tangan Mira di belakangnya. "Nggak di kantin, nggak di sini, semuanya penuh orang, Mir."
Mira tak berkomentar, sedangkan Kirana masih setia meratapi nasib pentolnya. Masalah yang timbul masihlah sama. Keramaian. Entah kenapa Kirana membenci hal itu. Sekarang apa yang bisa ia lakukan? Menoleh kesana-kemari pun percuma. Yang sempat terlihat dalam penglihatan Kirana malah seorang cowok yang berjalan mendekati Mira, tapi cewek berambut sebahu itu tidak ingin memikirkan hal itu. Perutnya sudah keroncongan minta diisi.
Pandangan Kirana beralih ke penjual otak-otak yang sepi pembeli. Kali ini bentrok dua kubu seakan bergejolak di pikirannya. Di satu sisi ia tidak terlalu menyukai otak-otak, tapi di sisi lainnya lagi merasa sangat lapar. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, kalau Kirana terus berdiri di sini sambil menunggu gerbang sekolahnya sepi, mustahil ia akan bisa masuk kelas tepat waktu.
Setelah menentukan pilihan akhirnya, Kirana kembali menarik tangan Mira dan menarik tangan teman barunya itu tanpa menoleh. Hatinya dengan mantap memilih otak-otak sebagai penghilang laparnya.
"Beli otak-otak aja, Mir! Nungguin pentol kelamaan," cerocos Kirana. Di belakangnya, Kirana tak mendengar Mira berkomentar. Kirana pun mempercepat langkahnya. Entah mengapa Kirana merasa Mira lebih berat dari sebelumnya.
"Otak-otak satu pedas, Pak," pesan Kirana. Cewek itu mengibaskan kunciran rambutnya yang sedikit lepek karena keringat. Di sebelahnya, Mira tidak mengatakan apapun, dan itu menarik perhatian Kirana yang sedari tadi sedikit merasa heran.
"Kamu nggak pes-en, Mir?" suara Kirana tenggelam di dua suku kata terakhir. Kali ini ia sudah benar-benar membalikkan badannya, namun apa yang ia lihat sekarang membuat seluruh tulangnya seakan lumpuh seketika.
Sosok yang Kirana lihat sekarang tengah melipat kedua tangan di depan dada dan terus memandang Kirana yang lebih pendek darinya. "Mira gak suka otak-otak. Dia maunya batagor."
Langsung saja Kirana mundur selangkah. Dia masih tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Kenapa bukan Mira? Kenapa seorang cowok yang nggak Kirana kenal? Dan bodohnya kenapa Kirana baru menyadarinya sekarang? Dilihatnya tempat dimana Mira berdiri sedari tadi. Cewek berambut panjang itu hanya menutup mulutnya sambil memandang kaget ke arah Kirana. Di dalam hati, Kirana ingin sekali menggigit Mira. Bisa-bisanya temannya itu hanya diam saja dan membiarkannya berada dalam posisi memalukan seperti ini?
"Tuh, otak-otakmu!"
Lagi-lagi Kirana terlihat linglung. Ia pun mengambil bungkusan otak-otak yang ia pesan dengan kaku layaknya robot yang tidak berpelumas. "Enggg... anu..." Entah kenapa susah sekali permintaan maaf itu terucap.
"Anu apa?"
"M-maaf ya?"
Cowok itu tiba-tiba tersenyum, entah karena apa. Wajahnya yang sedari tadi terlihat kaku, kini terlihat sumringah. "Lain kali noleh dulu sebelum narik tangan orang." Setelah mengatakan itu, cowok tersebut pergi begitu saja dan meninggalkan Kirana yang masih terpaku. Bener-bener deh, Kirana terlihat begitu konyol sekarang.
"Kirana?"
Panggilan Mira dari jauh segera membuat perhatian Kirana teralih dari punggung cowok itu. Terlihat di sana Mira tengah melambai-lambaikan tangan dan menyuruh Kirana untuk cepat menghampirinya. Tak banyak berpikir, Kirana pun melangkahkan kakinya menghampiri Mira.
Namun sekali lagi Kirana menoleh ke punggung cowok tadi. Punggung itu kini sudah tak terlihat karena banyaknya punggung yang lain di sana. Entah kenapa, tiba-tiba Kirana sungguh ingin melihat punggung itu lagi.
.
.
.
Ah, siapa ya nama cowok itu?
.
.
.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar