This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Minggu, 21 Juli 2013

I Can Feel Your :)

Kelas yang tidak terlalu luas, jumlah jendela yang sedikit, dan kipas angin yang menyala pelan. Oh... sungguh itu terasa menyiksa bagi Kirana, apalagi ditambah suara bising yang mendengung dari para teman-temannya yang entah membicarakan apa.

Hari ini jumlah mata pelajarannya tidak begitu banyak. Mendekati jam-jam terakhir seperti ini, merupakan hal wajar jika guru tidak masuk ke kelas untuk mengajar murid-muridnya. Alasannya sih banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan, lagi pula mereka juga memberikan catatan sebagai pengganti keabsenan mereka. Namun Kirana tak mau semudah itu mempercayainya. Bisa saja kan mereka belanja? Pergi ke salon? Tertawa-tertawa sambil menyeruput teh atau kopi? Pasti ada alasan lain selain alasan klasik itu.

Hahh... memang beginilah terlahir sebagai orang yang tidak mudah percaya. Selalu berpikir yang tidak-tidak.

Kirana mengubah posisi kepalanya yang ia letakkan di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, ia sedikit mengutuk nasibnya yang masuk ke jurusan broadcasting. Sebelumnya ia memilih jurusan desain, namun jumlah nilainya sama sekali tak mengijinkannya. Andai saja ia bisa masuk kelas desain, teman-temannya pasti tidak akan seberisik ini, karena menurut rumor, anak-anak jurusan desain cenderung sopan dibandingkan teman-temannya yang bisa dibilang sedikit bar bar.

Suara musik mellow yang mengalun keras dari ear phone yang terpasang di telinganya, membuat Kirana bisa merasa tenang. Ia bahkan mulai mengantuk dalam keadaan berisik seperti ini. Dengan mata yang mulai sayu, Kirana memperhatikan Mira yang tengah bergurau dengan teman sekelasnya yang lain.

Kirana menghela napas pelan. Akan sangat menyenangkan jika ia seperti Mira. Cewek manis berambut panjang yang kini menjadi teman sebangkunya itu memiliki kepribadian yang berbeda dengannya. Mira begitu menyenangkan bagi semua orang. Cewek itu selalu terlihat anggun, senyumnya juga terlihat menyenangkan. Dari selentingan kabar yang ia dengar, banyak anak-anak cowok di sekolahnya yang naksir Mira. Bahkan diantaranya adalah kakak kelas.

Sentuhan pelan di pundak Kirana tidak terasa nyata bagi cewek itu. Entah karena mengantuk atau memang tidak peka, Kirana tidak terlalu menanggapinya dan kembali mencoba untuk memejamkan matanya.

"Tau Mira nggak?"

Kali ini tidak ada yang tidak nyata. Suara itu bahkan sampai terdengar di telinga Kirana yang disumpal ear phone. Menegakkan tubuhnya malas, Kirana menunjuk posisi Mira berada tanpa repot-repot memandang dulu orang yang mengajaknya berbicara. "Di sana."

Kirana menegang saat mengetahui siapa orang yang berdiri di samping bangkunya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Mulutnya terbuka sedikit, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Alhasil, saat ia memanggil Mira, suaranya terdengar aneh. "Mir! Mira!" panggil Kirana sambil terus menatap orang itu.

Tak butuh panggilan ketiga untuk membuat Mira datang. Cewek itu langsung menghampiri Kirana dengan senyum manisnya. "Eh, Evan. Ada apa?"

Ah... Kirana langsung tahu kenapa Mira tersenyum seperti itu.

"Bisa nitip ini nggak?"

"Apa ini?" Mira ganti bertanya saat cowok yang bernama Evan itu menyodorkan sebuah kertas.

"Form pendaftaran ekskul panah. Kamu ikut kan?"

Mira mengangguk.

"Nanti aku ada seleksi ekskul sepak bola, jadi nggak bisa dateng buat ngasih itu."

Oke, Kirana mulai paham. Jadi Evan nitipin pendaftaran ekskul panah ke Mira karena cowok itu harus ikut seleksi ekskul sepak bola.

Tapi... kenapa harus Mira? Dan kenapa Evan langsung tahu Mira ikut ekskul panahan?

"Oke, titipin aku aja nggak papa. Nanti pasti aku sampaikan alasan kamu."

Untuk kedua kalinya setelah bertemu dengan Evan, Kirana melihat senyum cowok itu sekali lagi. Namun senyum kali ini bukan senyum geli yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

"Thanks yah?" ucap Evan.

Mira mengangguk, tentu dengan senyumnya seperti biasa.

Saat itu, Kirana mengira Evan akan pergi begitu saja meninggalkan ruang kelasnya. Namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Evan menyunggingkan senyum untuknya sambil menggumam kalimat pamit. Demi apapun yang membuat Kirana bete hari itu, Kirana merasa seperti ada sebuah benda yang menggeliat di perutnya. Jantungnya berdetak kian cepat, sedangkan pipinya terasa terbakar hingga ke belakang telinga.
.
.
Astagaa... perasaan apa ini?
.
.
.
"Kirana?"

Kirana menoleh cepat ke arah Mira. Sedikit gelagapan menanggapi cewek yang kini melihatnya heran itu. "Y-ya, Mir?"

"Kamu sakit? Wajahmu kok merah?"

Omaigad....

"Nggak. Enggak kok, Mir."

"Jangan bohong loh!" Mira mengacungkan jari telunjuknya ke arah Mira. "Daritadi kamu kelihatan lemes, kamu pusing yah?"

Kirana melepas ear phone-nya, mencari topik lain untuk dibicarakan. "Jadi kamu ikut ekskul panah?"

Mira terlihat curiga, mungkin karena Kirana yang tiba-tiba memutar arah pembicaraan. Tapi ujung-ujungnya, cewek itu toh menyahut juga. "Iya. Kamu jadi ikut apa?"

"Nggak tahu," jawab Kirana enteng. Ia memang malas mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. "Kamu suka panahan?"

Mira mengangguk. "Dari SMP."

Kirana mulai tergelitik pertanyaan yang tadi sempat muncul di pikirannya. "Trus kok cowok tadi nitip ke kamu? Kalian temenan?"

"Iya, Evan temen SMP-ku. Kita emang nggak seberapa deket sih, yah... tapi setidaknya kenal lah."

Oh... jadi seperti itu.

Jadi itu alasan mengapa Evan mempercayai Mira untuk menyerahkan form-nya, dan mengapa cowok itu langsung tahu Mira ikut kegiatan panahan.

Mereka adalah teman. Yah.. teman.
.
.
.
Mengetahui hal itu, entah kenapa Kirana merasa sedikit lega.
.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar