This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Rabu, 24 Juli 2013

The Meet

Oke, ini memang aneh. Tapi selama lebih dari tiga jam aku di cafe ini, tak henti-hentinya aku memandang objek yang berada di sudut ruangan sana. Cahaya yang berpendar redup, alunan musik klasik, serta sunyinya suara yang tercipta di ruangan ini semakin membuat konsentrasiku bertuju kepadanya.

Tuhan... siapa orang itu?

Kulirik lagi dia dari ujung latop yang sejajar dengan hidungku. Dia bukanlah pria yang tampan kukira. Lihat, kulitnya saja terlihat seperti baru saja berjemur lebih dari dua hari. Dia hitam. Yah, menurutku dia bisa dikategorikan orang berkulit hitam. Tapi... kenapa kulit hitamnya yang dilapisi t-shirt orange berkerah v-neck itu semakin membuatnya terlihat jantan? Lengannya yang tidak seberapa besar seolah-olah mengundang imajinasiku untuk berada di dalam pelukannya.

Tidak tidak. Ya Tuhan... alihkan perhatianku.

Kufokuskan lagi pandangan ke layar laptopku. Oke, ini sudah hampir akhir bulan, dan lusa adalah deadline ku mengerjakan laporan keuangan kantor. Mau tidak mau aku harus bisa mencicil kekurangannya sekarang supaya namaku masih bisa bertahta di meja kantorku.

“Green tea satu.”

Demi usaha keras bosku untuk menumbuhkan rambut di kepala botaknya, aku menoleh cepat ke arah sumber suara itu. Tempat dudukku yang memang bersebelahan dengan bar memaksaku untuk mengalihkan konsentrasi yang baru saja terkumpul pada pekerjaanku. Suara itu... astaga... begitu memikat dengan logat timurnya. Berat, namun sedikit serak. Sebaris kalimat itu membuat otakku menduga bahwa pria berkaos orange itu mungkin berasal dari pulau Sulawesi atau Lombok.

Sedetik setelahnya, sepasang mata dengan iris coklat gelap itu seakan mempergokiku karena sedari tadi telah mengawasinya. Oh Tuhan, jika saja aku tak menyadari warna matanya, aku pasti akan langsung bisa memalingkan muka. Tapi mengapa aku malah terpaku menatapnya?

Senyuman itu tercipta. Senyuman yang sedari awal aku pertanyakan bentuknya. Yah... senyuman itu untukku. Senyuman yang semakin membuatnya terlihat mempesona itu untukku. Dengan kesadaran untuk mengontrol diri yang masih tersisa, kukembangkan senyumku dengan ragu dan kaku. Di saat seperti ini, bisa-bisanya aku malah menambahi dengan sapaan singkat?

“Hai,” ucapnya membalas sapaanku, tentunya kali ini dengan senyum ramah yang lebih merekah dari sebelumnya.

It must be over!!

Aku menunggunya kembali ke tempatnya, namun aku tak benar-benar memandangnya lagi. Di dalam hati, aku menegaskan bahwa aku tak boleh membuat diriku malu lagi. Cukup dengan hal itu, yah  cukup dengan sapaan itu.

Setelah kupastikan dari sudut mataku dia sudah duduk, dengan segera aku meraih dan menata seluruh dokumen yang kuletakan di atas meja. Gerakanku cepat, namun kupastikan tidak terkesan terburu-buru. Setelah semuanya berada di dalam map, kututup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Bagaimanapun aku harus cepat pergi dari sini. Tak tahu di mana lagi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, yang penting aku harus pergi terlebih dahulu.

Aku keluar, setelah melewati pintu cafe, aku segera mencai kunci mobil di kantong tas ku.

“Kunci kamu.”

Aku menoleh cepat. Pria itu, pria yang membuatku gila hanya dalam beberapa menit itu berdiri di hadapanku. Kami berdiri begitu dekat, aku bahkan bisa mencium samar aroma parfumnya. Paco Rabbane.

“Eh.. Ma-makasih,” sahutku gagap. Ya Tuhan, seharusnya aku lebih bisa mengontrol diri.

“Sama-sama, Sarah.”

Aku mengerjap. Barusan dia memanggilku Sarah. Aku membuka mulut, mencari bagaimana susunan kata yang tepat untuk menanyakan bagaimana dia bisa tahu namaku.

“Gantungan kunci mobilmu,” jawab pria itu seolah-olah sudah membaca pikiranku.

Oh ya, gantungan kunciku.

Aku mengangguk paham. Ya, memangnya darimana lagi dia bisa tahu namaku? “Sekali lagi makasih ya...” Oke, kali ini giliranku yang harus menyebutkan namanya.

“Leo.”

“Ah ya.” Leo! Namanya Leo! Ya Tuhan... “Makasih, Leo. Aku emang lupaan kadang-kadang.”

Leo kembali tersenyum. Senyuman yang sama mempesonanya dengan yang tadi.

“Oke, aku harus pergi dulu,” ucapku memecah kesunyian yang sempat tercipta.

“Ya, hati-hati.”

Aku memutar badan. Berjalan kaku menuju mobil. Yah, bagaimana tidak kaku jika semua hal yang tidak terduga terjadi begitu cepat hari ini. Baru saja aku membuka pintu mobil, suara Leo yang memanggil namaku dan derap langkah yang mendekat membuatku kembali menoleh.

“Emmm...” Leo menggaruk kepalanya. Aku jadi sedikit ilfeel. Apa pria ini kutuan? “Kamu sering ke cafe sini kan?”

Aku mengangguk.

“Kalau misalnya sewaktu-waktu kita ketemu lagi buat ngobrol-ngobrol bareng bisa, kan?”

Aku ternganga. Tuhan... apakah telingaku tersumpal sesuatu?

“Emm.. gini. Aku kan baru tiga hari di kota ini, aku juga kadang nggak ngerti sama bahasa asli sini. Jadi kalau misalnya ketemu, trus kita ngobrol-ngobrol tentang kota ini boleh kan?” Senyuman Leo di akhir kalimat pria itu entah mengapa seperti memberitahuku bahwa aku harus bilang ‘iya’.

“Boleh. Lagian aku juga suka tempat ini.”

Leo tertawa. “Oke, kalau seperti ini kan aku nggak perlu sewa tour guide.”

Kali ini aku yang tertawa. “Aku nggak gratis loh yaaa...”

“Haha, iya aku tahu. Jadi kapan kira-kira kita bisa ketemu lagi di sini?”

Aku menelan ludah. Terkejut seklaigus berpikir. “Gimana kalau lusa? Saat makan siang.

“Usulan bagus.”

Aku tersenyum, semata-mata menutupi rasa gugupku.

“Lusa, makan siang. Aku traktir deh!” ucap Leo.

Aku hanya bisa mengangguk-angguk setuju. “Boleh. Oke, kalau begitu aku masuk dulu ya?”

Leo mengangguk. “Hati-hati.”

Setelahnya, aku masuk ke dalam mobil. Dari kaca spion, kulihat Leo malambaikan tangannya. Aku tersenyum. Memasukkan gigi, aku pun mulai menjalankan mobil.
.
.
.
Tuhan, hari ini serasa mimpi...
.
.

.

Minggu, 21 Juli 2013

I Can Feel Your :)

Kelas yang tidak terlalu luas, jumlah jendela yang sedikit, dan kipas angin yang menyala pelan. Oh... sungguh itu terasa menyiksa bagi Kirana, apalagi ditambah suara bising yang mendengung dari para teman-temannya yang entah membicarakan apa.

Hari ini jumlah mata pelajarannya tidak begitu banyak. Mendekati jam-jam terakhir seperti ini, merupakan hal wajar jika guru tidak masuk ke kelas untuk mengajar murid-muridnya. Alasannya sih banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan, lagi pula mereka juga memberikan catatan sebagai pengganti keabsenan mereka. Namun Kirana tak mau semudah itu mempercayainya. Bisa saja kan mereka belanja? Pergi ke salon? Tertawa-tertawa sambil menyeruput teh atau kopi? Pasti ada alasan lain selain alasan klasik itu.

Hahh... memang beginilah terlahir sebagai orang yang tidak mudah percaya. Selalu berpikir yang tidak-tidak.

Kirana mengubah posisi kepalanya yang ia letakkan di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, ia sedikit mengutuk nasibnya yang masuk ke jurusan broadcasting. Sebelumnya ia memilih jurusan desain, namun jumlah nilainya sama sekali tak mengijinkannya. Andai saja ia bisa masuk kelas desain, teman-temannya pasti tidak akan seberisik ini, karena menurut rumor, anak-anak jurusan desain cenderung sopan dibandingkan teman-temannya yang bisa dibilang sedikit bar bar.

Suara musik mellow yang mengalun keras dari ear phone yang terpasang di telinganya, membuat Kirana bisa merasa tenang. Ia bahkan mulai mengantuk dalam keadaan berisik seperti ini. Dengan mata yang mulai sayu, Kirana memperhatikan Mira yang tengah bergurau dengan teman sekelasnya yang lain.

Kirana menghela napas pelan. Akan sangat menyenangkan jika ia seperti Mira. Cewek manis berambut panjang yang kini menjadi teman sebangkunya itu memiliki kepribadian yang berbeda dengannya. Mira begitu menyenangkan bagi semua orang. Cewek itu selalu terlihat anggun, senyumnya juga terlihat menyenangkan. Dari selentingan kabar yang ia dengar, banyak anak-anak cowok di sekolahnya yang naksir Mira. Bahkan diantaranya adalah kakak kelas.

Sentuhan pelan di pundak Kirana tidak terasa nyata bagi cewek itu. Entah karena mengantuk atau memang tidak peka, Kirana tidak terlalu menanggapinya dan kembali mencoba untuk memejamkan matanya.

"Tau Mira nggak?"

Kali ini tidak ada yang tidak nyata. Suara itu bahkan sampai terdengar di telinga Kirana yang disumpal ear phone. Menegakkan tubuhnya malas, Kirana menunjuk posisi Mira berada tanpa repot-repot memandang dulu orang yang mengajaknya berbicara. "Di sana."

Kirana menegang saat mengetahui siapa orang yang berdiri di samping bangkunya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Mulutnya terbuka sedikit, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Alhasil, saat ia memanggil Mira, suaranya terdengar aneh. "Mir! Mira!" panggil Kirana sambil terus menatap orang itu.

Tak butuh panggilan ketiga untuk membuat Mira datang. Cewek itu langsung menghampiri Kirana dengan senyum manisnya. "Eh, Evan. Ada apa?"

Ah... Kirana langsung tahu kenapa Mira tersenyum seperti itu.

"Bisa nitip ini nggak?"

"Apa ini?" Mira ganti bertanya saat cowok yang bernama Evan itu menyodorkan sebuah kertas.

"Form pendaftaran ekskul panah. Kamu ikut kan?"

Mira mengangguk.

"Nanti aku ada seleksi ekskul sepak bola, jadi nggak bisa dateng buat ngasih itu."

Oke, Kirana mulai paham. Jadi Evan nitipin pendaftaran ekskul panah ke Mira karena cowok itu harus ikut seleksi ekskul sepak bola.

Tapi... kenapa harus Mira? Dan kenapa Evan langsung tahu Mira ikut ekskul panahan?

"Oke, titipin aku aja nggak papa. Nanti pasti aku sampaikan alasan kamu."

Untuk kedua kalinya setelah bertemu dengan Evan, Kirana melihat senyum cowok itu sekali lagi. Namun senyum kali ini bukan senyum geli yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

"Thanks yah?" ucap Evan.

Mira mengangguk, tentu dengan senyumnya seperti biasa.

Saat itu, Kirana mengira Evan akan pergi begitu saja meninggalkan ruang kelasnya. Namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Evan menyunggingkan senyum untuknya sambil menggumam kalimat pamit. Demi apapun yang membuat Kirana bete hari itu, Kirana merasa seperti ada sebuah benda yang menggeliat di perutnya. Jantungnya berdetak kian cepat, sedangkan pipinya terasa terbakar hingga ke belakang telinga.
.
.
Astagaa... perasaan apa ini?
.
.
.
"Kirana?"

Kirana menoleh cepat ke arah Mira. Sedikit gelagapan menanggapi cewek yang kini melihatnya heran itu. "Y-ya, Mir?"

"Kamu sakit? Wajahmu kok merah?"

Omaigad....

"Nggak. Enggak kok, Mir."

"Jangan bohong loh!" Mira mengacungkan jari telunjuknya ke arah Mira. "Daritadi kamu kelihatan lemes, kamu pusing yah?"

Kirana melepas ear phone-nya, mencari topik lain untuk dibicarakan. "Jadi kamu ikut ekskul panah?"

Mira terlihat curiga, mungkin karena Kirana yang tiba-tiba memutar arah pembicaraan. Tapi ujung-ujungnya, cewek itu toh menyahut juga. "Iya. Kamu jadi ikut apa?"

"Nggak tahu," jawab Kirana enteng. Ia memang malas mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. "Kamu suka panahan?"

Mira mengangguk. "Dari SMP."

Kirana mulai tergelitik pertanyaan yang tadi sempat muncul di pikirannya. "Trus kok cowok tadi nitip ke kamu? Kalian temenan?"

"Iya, Evan temen SMP-ku. Kita emang nggak seberapa deket sih, yah... tapi setidaknya kenal lah."

Oh... jadi seperti itu.

Jadi itu alasan mengapa Evan mempercayai Mira untuk menyerahkan form-nya, dan mengapa cowok itu langsung tahu Mira ikut kegiatan panahan.

Mereka adalah teman. Yah.. teman.
.
.
.
Mengetahui hal itu, entah kenapa Kirana merasa sedikit lega.
.
.
.