Oke, ini memang aneh. Tapi selama lebih dari tiga jam aku di
cafe ini, tak henti-hentinya aku memandang objek yang berada di sudut ruangan sana.
Cahaya yang berpendar redup, alunan musik klasik, serta sunyinya suara yang
tercipta di ruangan ini semakin membuat konsentrasiku bertuju kepadanya.
Tuhan... siapa orang itu?
Kulirik lagi dia dari ujung latop yang sejajar dengan
hidungku. Dia bukanlah pria yang tampan kukira. Lihat, kulitnya saja terlihat
seperti baru saja berjemur lebih dari dua hari. Dia hitam. Yah, menurutku dia
bisa dikategorikan orang berkulit hitam. Tapi... kenapa kulit hitamnya yang
dilapisi t-shirt orange berkerah v-neck itu semakin membuatnya terlihat jantan?
Lengannya yang tidak seberapa besar seolah-olah mengundang imajinasiku untuk
berada di dalam pelukannya.
Tidak tidak. Ya Tuhan... alihkan perhatianku.
Kufokuskan lagi pandangan ke layar laptopku. Oke, ini sudah
hampir akhir bulan, dan lusa adalah deadline ku mengerjakan laporan keuangan
kantor. Mau tidak mau aku harus bisa mencicil kekurangannya sekarang supaya namaku
masih bisa bertahta di meja kantorku.
“Green tea satu.”
Demi usaha keras bosku untuk menumbuhkan rambut di kepala
botaknya, aku menoleh cepat ke arah sumber suara itu. Tempat dudukku yang
memang bersebelahan dengan bar memaksaku untuk mengalihkan konsentrasi yang
baru saja terkumpul pada pekerjaanku. Suara itu... astaga... begitu memikat
dengan logat timurnya. Berat, namun sedikit serak. Sebaris kalimat itu membuat
otakku menduga bahwa pria berkaos orange itu mungkin berasal dari pulau
Sulawesi atau Lombok.
Sedetik setelahnya, sepasang mata dengan iris coklat gelap
itu seakan mempergokiku karena sedari tadi telah mengawasinya. Oh Tuhan, jika
saja aku tak menyadari warna matanya, aku pasti akan langsung bisa memalingkan
muka. Tapi mengapa aku malah terpaku menatapnya?
Senyuman itu tercipta. Senyuman yang sedari awal aku
pertanyakan bentuknya. Yah... senyuman itu untukku. Senyuman yang semakin
membuatnya terlihat mempesona itu untukku. Dengan kesadaran untuk mengontrol
diri yang masih tersisa, kukembangkan senyumku dengan ragu dan kaku. Di saat
seperti ini, bisa-bisanya aku malah menambahi dengan sapaan singkat?
“Hai,” ucapnya membalas sapaanku, tentunya kali ini dengan
senyum ramah yang lebih merekah dari sebelumnya.
It must be over!!
Aku menunggunya kembali ke tempatnya, namun aku tak
benar-benar memandangnya lagi. Di dalam hati, aku menegaskan bahwa aku tak
boleh membuat diriku malu lagi. Cukup dengan hal itu, yah cukup dengan sapaan itu.
Setelah kupastikan dari sudut mataku dia sudah duduk, dengan
segera aku meraih dan menata seluruh dokumen yang kuletakan di atas meja.
Gerakanku cepat, namun kupastikan tidak terkesan terburu-buru. Setelah semuanya
berada di dalam map, kututup laptopku dan memasukannya ke dalam tas.
Bagaimanapun aku harus cepat pergi dari sini. Tak tahu di mana lagi aku harus
menyelesaikan pekerjaanku, yang penting aku harus pergi terlebih dahulu.
Aku keluar, setelah melewati pintu cafe, aku segera mencai
kunci mobil di kantong tas ku.
“Kunci kamu.”
Aku menoleh cepat. Pria itu, pria yang membuatku gila hanya
dalam beberapa menit itu berdiri di hadapanku. Kami berdiri begitu dekat, aku
bahkan bisa mencium samar aroma parfumnya. Paco Rabbane.
“Eh.. Ma-makasih,” sahutku gagap. Ya Tuhan, seharusnya aku lebih
bisa mengontrol diri.
“Sama-sama, Sarah.”
Aku mengerjap. Barusan dia memanggilku Sarah. Aku membuka
mulut, mencari bagaimana susunan kata yang tepat untuk menanyakan bagaimana dia
bisa tahu namaku.
“Gantungan kunci mobilmu,” jawab pria itu seolah-olah sudah
membaca pikiranku.
Oh ya, gantungan kunciku.
Aku mengangguk paham. Ya, memangnya darimana lagi dia bisa
tahu namaku? “Sekali lagi makasih ya...” Oke, kali ini giliranku yang harus
menyebutkan namanya.
“Leo.”
“Ah ya.” Leo! Namanya Leo! Ya Tuhan... “Makasih, Leo.
Aku emang lupaan kadang-kadang.”
Leo kembali tersenyum. Senyuman yang sama mempesonanya
dengan yang tadi.
“Oke, aku harus pergi dulu,” ucapku memecah kesunyian yang
sempat tercipta.
“Ya, hati-hati.”
Aku memutar badan. Berjalan kaku menuju mobil. Yah,
bagaimana tidak kaku jika semua hal yang tidak terduga terjadi begitu cepat
hari ini. Baru saja aku membuka pintu mobil, suara Leo yang memanggil namaku
dan derap langkah yang mendekat membuatku kembali menoleh.
“Emmm...” Leo menggaruk kepalanya. Aku jadi sedikit ilfeel.
Apa pria ini kutuan? “Kamu sering ke cafe sini kan?”
Aku mengangguk.
“Kalau misalnya sewaktu-waktu kita ketemu lagi buat
ngobrol-ngobrol bareng bisa, kan?”
Aku ternganga. Tuhan... apakah telingaku tersumpal
sesuatu?
“Emm.. gini. Aku kan baru tiga hari di kota ini, aku juga
kadang nggak ngerti sama bahasa asli sini. Jadi kalau misalnya ketemu, trus
kita ngobrol-ngobrol tentang kota ini boleh kan?” Senyuman Leo di akhir kalimat
pria itu entah mengapa seperti memberitahuku bahwa aku harus bilang ‘iya’.
“Boleh. Lagian aku juga suka tempat ini.”
Leo tertawa. “Oke, kalau seperti ini kan aku nggak perlu
sewa tour guide.”
Kali ini aku yang tertawa. “Aku nggak gratis loh yaaa...”
“Haha, iya aku tahu. Jadi kapan kira-kira kita bisa ketemu
lagi di sini?”
Aku menelan ludah. Terkejut seklaigus berpikir. “Gimana
kalau lusa? Saat makan siang.
“Usulan bagus.”
Aku tersenyum, semata-mata menutupi rasa gugupku.
“Lusa, makan siang. Aku traktir deh!” ucap Leo.
Aku hanya bisa mengangguk-angguk setuju. “Boleh. Oke, kalau
begitu aku masuk dulu ya?”
Leo mengangguk. “Hati-hati.”
Setelahnya, aku masuk ke dalam mobil. Dari kaca spion,
kulihat Leo malambaikan tangannya. Aku tersenyum. Memasukkan gigi, aku pun
mulai menjalankan mobil.
.
.
.
Tuhan, hari ini serasa mimpi...
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar