This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Jumat, 08 Agustus 2014

Temanku...

Melihatmu, mengenalmu, menjadi temanmu, menjadi orang terdekatmu, merasakan degupan aneh saat bersamamu, merasakan banyak kenangan tak terlupakan bersamamu, mencoba tak menghiraukan dalamnya tatapanmu, mengetahui siapa pemilikmu, memendam semua yang kurasa tentangmu, dan… menahan segala gejolak emosi yang berkecamuk tiap kali aku bertemu denganmu.

Temanku… andai engkau tau isi hatiku.

.

.

.

Entah kata pertama apa yang harus aku ungkapkan ketika aku melihatmu sore itu. Aku merasa seluruh tubuhku tiba-tiba bereaksi dengan sendirinya. Jantungku berdegup cepat, bibirku seakan-akan selalu ingin mengukir senyum, dan  berbagai candaan yang biasa kita lakukan seolah-olah mengantri di dalam mulutku untuk dikeluarkan. Namun aku juga tak melupakan reaksi yang lain, yaitu reaksi untuk mengurungkan semua reaksiku itu.

Kau duduk di motormu, memunggungiku, dan tak melihatku. Seperti biasa, aku selalu merasa bahwa punggung lebarmu itu mengemban banyak tanggung jawab di atasnya. Tanpa aku mendekat pun aku tahu apa yang sedang kau lakukan, yah…  kau pasti sedang sibuk dengan ponselmu. Tanpa berniat membuatmu menoleh, aku memilih jarak parkir yang cukup jauh dari tempatmu. Ujung dan ujung. Kurasa jarak yang aku pilih adalah jarak yang aman, namun ternayata tidak saat kau menoleh perlahan.

Matamu yang menatapku seolah-olah ingin berkata sesuatu, namun hal itu tak kunjung keluar juga dari mulutmu. Mencoba setenang mungkin, aku menyunggingkan senyumku dan menyapa namamu. Kau masih diam dan tak merespon, entah ini sifat barumu atau apa. Sudah kepalang basah menurutku jika ingin menghindar darimu seakrang juga. Seturunku dari motor, aku berjalan mendekatimu hanya untuk sekedar berbasa-basi. Yah… aku harap memang hanya untuk sekedar berbasa-basi karena aku tidak ingin berharap lebih.

“Ngapain di sini?” tanyaku seraya semakin mendekatimu.

“Nunggu,” jawabmu singkat dan dengan raut wajah datarmu seperti biasa.

Aku melebarkan senyumanku, bukan senyuman bahagia tentunya karena aku tahu siapa yang di tunggu. “Nunggu Nyonya, ya?”

Kau hanya tertawa. Sungguh berbanding terbalik dari dirimu beberapa saat sebelumnya. Aku pun turut tertawa, lebih lebar malah. Karena aku tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

Aku tentunya bahagia, sebagai sahabatmu aku senang kau menemukan pendamping yang begitu menginginkanmu untuk menjadi pemimpinnya di masa mendatang. Kau pun, jika kulihat dari matamu, kau juga merasa bahagia saat menemukan bagian jiwa yang sudah lama tak kau temukan. Namun selama ini aku sadar, bahagiaku atas bahagiamu hanyalah cadar dari rasa marah, bingung, cemburu, dan penyesalan yang selama ini aku rasakan.

“Sudah ya, aku mau masuk dulu, mau tidur,” ucapku mencoba mengakhiri pembicaraan.

“Pulang kerja ya?”

“Iya, ngantuk aku, tadi di kantor kepalaku juga pusing.”

Tiba-tiba kau merapatkan bibirmu, dan mencubit kecil pipiku. “Hm… Makanya pola tidur itu dijaga, jangan diforsir.”

Aku sempat membeku, tak tahu harus berbuat apa. Alhasil, hanyalah tawa. “Iya, kemarin keenakan lihat film India sampai malam, trus paginya harus kerja.”

“Dibiasakan tidur cukup.”

“Iya iya, kemarin khilaf.”

“Khilaf kok terus?!” potongmu cepat.

Lagi-lagi aku tertawa. “Lupa, jadinya khilaf. Kamu sih, sejak ada Nyonya jadi nggak pernah ngingetin aku lagi. Inget dulu kita pernah ngapain aja, jangan hanya karena ada Nyonya kamu jadi lupa ya?” Aku tertawa lebar setelah mengatakan itu.

“Duh…” ucapmu pelan, wajahmu kembali datar.

Tak pelak, untuk yang kesekian kalinya aku tertawa. Aku memang tertawa, tapi aku sadar aku harus mengakhiri ini secepatnya. “Sudah ya, tambah pusing aku ketawa terus.”

Saat aku baru saja berbalik, kau menahan lenganku dan menyebut namaku. Aku reflek menoleh, dan mendapati raut wajahmu yang kini telah berubah dari beberapa saat yang lalu.

“Sebentar.”

“Ada apa?” tanyaku.

Kau melepaskan peganganmu dan menatapku. Aku menunggu. Bibirmu bergerak, namun tak mengeluarkan suara apa-apa. Matamu yang tadi menatap lurus ke arahku, kini malah kau palingkan ke segala arah.

“Hei, ada apa?” ulangku dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Kulihat kau seolah tersadar akan sesuatu, lalu matamu kembali menatapku. “Eng… itu… apa…”

Aku mengerutkan alisku menunggumu.

“Em… skri-skripsimu gimana?”

Skripsi?

“Semester berapa ini?” tanyaku hati-hati, mencoba mencari tahu hal lain yang kini kau pikirkan.

“Eh, bukan skripsi.”

“Lalu?”

Kau menggigit bibir bawahmu dan memalingkan muka. Mungkin bagi orang yang tidak tahu, mereka mengira kau enggan untuk meneruskan pembicaraan denganku, tapi bagiku yang tahu siapa dirimu, kau kini tengah menyembunyikan sesuatu.

“Organisasi,” jawabmu setelah sekian saat tak mengeluarkan kata-kata.

Aku menghela napas, sedikit tak habis pikir ternyata sifat lamamu belum berubah. “Kamu kan tahu kalau sekarang sudah bukan masaku,” jawabku datar. Entah mengapa emosiku sedikit terpancing melihatmu masih tak ingin banyak terbuka seperti dulu.

“Oh iya, angkatan baru ya yang jadi pengurus?”

Aku diam tak menyahut.

“Trus gimana para mahasiswa baru? Banyak yang minat gabung gak di sana?”

Sekali lagi kuhela napasku dan sedikit mendekat ke arahmu. “Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan sama aku?”

Tiba-tiba kau menutup mulutmu rapat. Aku terus memandangimu lekat-lekat, dan hal yang tidak pernah aku perkirakan adalah kau yang juga membalas tatapanku. Entah hanya aku yang menyadari atau apa, tapi kita saling memandang cukup lama tanpa mengucap sepatah kata. Untuk yang kesekian puluh kali, aku tetap tak bisa membacanya. Membaca apa yang kini tengah kau sembunyikan dan rasa.

“Oke, kayaknya nggak ada,” ucapku mengakhiri kontak mata ini. Aku bersiap akan berpamitan lagi sebelum akhirnya kau turut membuka mulut.

“Kamu sendiri gimana?”

Aku berbalik dan menatapmu penuh tanya. “Maksudmu?”

“Mungkin…” Kau mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataanmu. “Mungkin ada sesuatu yang ingin kamu bilang ke aku?”

Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Namun tiba-tiba saja tanpa aba-aba jantungku berdegup kencang, dasar perutku bergemuruh hebat, dan kepalaku terasa ditekan sesuatu yang kasat mata dari segala arah. Aku menunduk cepat, bahkan untuk mengambil napas saja rasanya begitu sulit.

Aku tahu kau menunggu jawabanku, kau masih memandangku.

Setelah merasa sedikit tenang, perlahan aku memberanikan diri menatapmu. Setenang mungkin aku mencoba berbicara padamu. “Sesuatu apa?”

“Aku nggak tahu.”

Aku terkekeh kecil, menutupi rasa gugupku yang kembali hadir. Benakku bertanya-tanya, benarkah ini saatnya? Inikah saat dimana semua hal yang aku tenggelamkan sekian lama kembali kuangkat ke permukaan? Aku menggigit bibir bawahku dan menatapmu. “Aku juga nggak tahu.”

Kedua alismu bertaut. “Nggak tahu?”

“Yah…” ucapku seraya menghela napas berat. “Aku… nggak tahu harus memulai darimana.”

“Berarti memang ada?”

Aku mendongak menatapmu yang jauh lebih tinggi dariku. Aku mengangguk ragu. “Tapi bukan sekarang,” sahutku cepat.

“Kenapa?” tanyamu cepat dengan sebelah tanganmu yang mencengkeram lenganku erat.

Aku melihat tanganmu sebentar. “Karena aku nggak tahu harus memulai darimana.”

Kau diam. Cengkeramanmu perlahan terlepas. Di dalam hati aku mencoba menebak, sadarkah kau dengan apa yang kau lakukan barusan?

“Susahkah untuk diucapkan?”

Tenggorokkanku terasa sakit untuk mengatakan kalimat persetujuan. Hanya anggukkan yang aku tujukan.

“Kenapa?” Kali ini kau terlihat lebih tenang.

Aku menarik napas. Karena hanya akan menyakiti hati setiap orang, batinku. “Karena ini nggak hanya menyangkut kita.”

Kau kembali diam, sedangkan aku mulai menahan isakan. Tiba-tiba saja aku ingin menangis. Semua gundah dan resah tentang dirimu secara tiba-tiba menyapu bagian paling dalam hatiku. Aku merapatkan bibirku saat merasa pangkal hidungku begitu pedih dan kedua mataku yang mulai memanas. Sama sekali tak ada keberanian bagiku untuk memandangmu. Aku pun mengambil satu langkah mundur dan bersiap pergi dari hadapanmu sebelum aku merasa kau menarik lenganku dan melingkarkan sebelah tanganmu yang bebas di kedua bahuku.

Kau memelukku, tak erat dan tak kuat. Di dalam rengkuhan pundakmu yang begitu menjulang, aku merasakan tanganmu yang masih memegang lenganku sedikit bergetar. Kau tak berkata, namun kau tak juga tak melepaskan semuanya. Dalam diam, kau memelukku sambil menghela napas panjang.

“Mungkin tidak akan sesulit ini kalau sejak dulu rasa peka itu sudah ada,” bisikmu pelan.

Kau mengendurkan kedua tanganmu dan melepasku. Aku tak mengubah sedikitpun posisiku, aku tetap mendongak menghadapmu. Senyum simpulmu terukir, kau pun kembali mengangkat satu tanganmu untuk meremas lenganku.

“Katanya tadi ngantuk, udah sana tidur.”

Sedetik setelah itu, aku sudah tak sanggup untuk menahan genangan air mataku. Aku membalikkan badan cepat, dan berjalan menjauh darimu dengan linangan air mata yang tak dapat kutahan. Aku tak menolehmu lagi. Saat itu yang kuinginkan hanya menumpahkan segalanya yang pernah kupendam. Sesak memang jika harus menumpahkan semuanya secara bersamaan, namun aku juga sadar bahwa rasa sesak ini hanya akan terus berkelanjutan jika aku tidak mengakhiri semuanya sekarang.

.

.

.

Namun ternyata apa yang kupikirkan tidak sepenuhnya benar. Aku yang berharap tidak merasakan rasa sesak itu lagi, malah harus merasakannya sekali lagi.

.

.

.

Hal itu terjadi seminggu setelah kejadian itu. Seminggu itu pula, aku tak pernah bertemu denganmu. Di sisi lain, aku merasa berterimakasih akan hal ini. Bertemu denganmu hanya akan menguak hal yang sudah lalu, namun kurasa Tuhan punya cara lain untuk membuatku kembali terbayang dirimu, yaitu dengan kekasihmu.

Dia gadis yang cantik dan juga baik. Caranya tersenyum dan juga berbicara, memang mengundang setiap pria yang berjalan di dekatnya meluangkan waktu sejenak untuk menolehnya. Tak hanya pria menurutku, namun juga wanita. Contohnya adalah aku.

Saat itu aku mendengar suara kekasihmu yang berjalan di belakangku. Aku pun menoleh, dan dia tersenyum kepadaku.

“Hai, Mbak. Gak pernah ketemu tambah menggoda aja,” sapanya.

Aku turut tersenyum, tertawa malah. “Hahahahaha, kamu juga tambah menggoda.”

“Menggoda siapa nih?”

“Siapa lagi? Dia lah,” sahutku. Tanpa aku menyebutkan namanya, kami berdua tahu siapa yang disebut ‘dia’.

Kekasihmu hanya tertawa, namun itu hanya sesaat sebelum dia menurunkan senyumnya. “Aku kangen dia, Mbak.”

Untuk sesaat aku tak tahu harus berkata apa. Untuk apa juga kekasihmu ini berkata hal demikian di depanku? “Ketemu tiap hari kok kangen. Kurang ta ketemunya?” tanyaku dengan maksud bercanda.

“Apanya yang ketemu tiap hari? Ini aku udah seminggu gak ketemu dia,” jawab kekasihmu.

Sedikit banyak, aku mulai terasa tertarik dengan pembicaraan ini. “Loh? Kenapa? Dia luar kota?”

Kekasihmu menggeleng. “Dia nggak ngampus seminggu ini, Mbak.”

Ada sebuah palu yang terasa menghantam bagian terdalam dadaku. Seketika itu pula aku merasa sekelilingku berputar. Ulu hatiku terasa nyeri, dan aku mulai kesusahan untuk menghirup udara. “Kenapa?” tanyaku terbata dan pelan.

Lagi-lagi kekasihmu menggeleng, namun kali ini berbeda. Aku melihat sedikit genangan air di sepasang mata hitamnya. “Sudah, Mbak ya? Ini aku mau ke rumahnya, mau nengokin,” ucap kekasihmu sambil tersenyum lalu berbalik pergi.

Kekasihmu berjalan menjauh meninggalkanku sendiri tanpa menoleh lagi. Aku, tanpa kutahu apa penyebabnya, dadaku kembali terasa nyeri. Aku tak ingin sesumbar atau apa, tapi aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri kalau ini semua ada hubungannya dengan pertemuan terakhir kita.
Seminggu yang lalu…

.

.

.


Ya Tuhan, jagalah dia. Berilah dia kesehatan lahir dan batin. Berilah dia kebahagiaan di tengah banyaknya beban yang harus ia selesaikan. Dan yang terakhir adalah berilah dia seseorang yang mampu melewati segala kesulitan yang menghadangnya di masa sekarang maupun mendatang. Karena aku paham, Tuhan… yang bisa kulakukan hanyalah mendo’akannya dari sini, cukup dengan jarak seperti ini…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar