Gadis Kecil Pengantar Koran. Hm... aku kurang suka. Seharusnya Gadis Kecil Pengantar Koran yang Mengagumi Kakak Pelukis Cantik Berambut Cokelat Kemerah-merahan. Terlalu panjang? Tak apa, yang penting aku menyukainya. Yah... aku memang mengagumi kakak itu
Aku selalu semangat saat mengantarkan koran untuknya tiap pagi. Walaupun Kakak Cantik itu tak pernah meminta aku mengantarkan koran ke rumahnya, aku selalu melakukannya dengan rasa suka. Kami bertemu pertama kali saat aku melihatnya kesusahan mengeluarkan bingkisan persegi di depan rumahnya. Sebelumnya aku sering melewati rumah Kakak itu pada saat mengantar koran. Kukira rumah Kakak itu kosong karena aku tak pernah melihat ada orang yang keluar masuk saat aku melewatinya. Tapi saat itu, saat aku pertama kali melihat penghuni rumah itu, aku berhenti.
Aku memperhatikan Kakak itu dari jauh. Kumajukan kepalaku dan kubuka mataku lebar-lebar untuk memastikan apakah seorang wanita berpakaian rok panjang itu adalah manusia sama sepertiku. Aku tentu ingat cerita teman-temanku, bahwa rumah kosong biasanya banyak hantunya. Tapi setelah kulihat kakinya menapak di tanah, aku yakin seyakin-yakinnya kalau dia manusia. Apalagi saat dia berdiri di samping kotak surat cokelat dan menatapku dengan mata berbinar.
Kakak Cantik itu memanggilku. Suaranya lirih sekali. Aku sempat ragu untuk mendekat, tapi senyum dan lambaian tangannya membuatku membuang ragu dan mendekat padanya.
“Sampean saget ngeteraken barang?”
Aku mengangguk, dan Kakak Cantik itu tersenyum girang. Ia pun melesat masuk ke dalam rumahnya dan keluar tidak lama kemudian dengan sebuah lukisan di tangannya.
“Purun niki?” tawarnya sambil menyerahkan lukisan yang dibawanya kepadaku.
Itu adalah lukisan sepeda yang sangat cantik. Aku benar-benar menyukainya. Dengan semangat aku menganggukkan kepalaku, dan itu membuat Kakak tersebut semakin melebarkan senyumnya.
Itu adalah awal pertemuan kami. Sejak saat itu, aku selalu mengantar koran ke rumah Kakak Cantik itu. Kakak itu pernah menolak koran yang kuberi, katanya percuma, tidak akan ada yang membaca. Tapi aku tak peduli. Lukisan yang dia berikan padaku tak sebanding dengan koran yang kuberikan padanya tiap pagi. Lagipula... aku selalu berharap Kakak itu meminta tolong padaku untuk mengantar lukisan-lukisannya ke alamat yang ia beri saat dia meminta tolong padaku untuk pertama kalinya. Dengan begitu, koleksi lukisan sepedaku akan bertambah setiap waktunya.
Namun, di lain sisi aku juga merasa heran. Seringkali saat aku mengantar lukisan Kakak Cantik itu, aku juga mendapat kiriman lukisan balik yang ditujukan untuknya. Di bingkisan yang kukira semua isinya adalah lukisan si Kakak, terdapat sebuah amplop putih yang aku tak tahu apa isinya. Apalgi tiap kali aku menaruhnya di rumah si Kakak Cantik, Kakak tersebut tak pernah berada di depan rumah.
Itulah rutinitasku selama ini. Aku menjalaninya dengan senang hati. Bagiku, imbalan yang kuterima dari mengantar koran tak akan pernah sebanding dengan lukisan sepeda yang selalu kuterima dari Kakak pelukis yang cantik itu. Semua lukisannya sangat cantik. Aku jadi penasaran bagaimana isi rumahnya. Pasti dinding-dindingnya dipenuhi lukisan yang cantik-cantik pula. Sungguh, aku ingin sekali melihat semua lukisan Kakak Cantik itu. Hampir tiap kali aku mengantar koran, aku berharap agar bisa melihat semua lukisannya suatu hari nanti.
Namun pagi ini, masih dalam waktu seperti biasa aku mengantar koran ke rumahnya. Di depan rumah si Kakak yang sekarang tak dihiasi kursi goyang, meja, dan sepeda tua itu lagi, aku melihatnya duduk bersandar di depan pintu rumahnya dengan rambut panjang yang terurai sedikit acak-acakan. Mata Kakak itu terpejam, apakah Kakak itu sedang tidur?
Kugoyangkan lonceng yang biasa kubunyikan tiap kali aku mengantar koran ke rumah itu. Aku takut untuk membangunkannya langsung, maka dari itu aku hanya berani membunyikan lonceng berwarna keemasan tersebut. Tak ada pergerakan, kugoyangkan sekali lagi. Berhasil, si Kakak bangun dan menghampiriku.
“Kulo angsal nyuwun tulung?”
Aku mengerjap. Wajah Kakak Cantik itu terlihat pucat. Saat ia menyodorkan berlembar-lembar kertas kepadaku, aku melihat banyak sekali luka gores di lengannya.
“Tulung sukak'aken niki ten tiang-tiang.”
Seketika aku mendongak menatap wajahnya yang semakin terlihat pucat saat diperhatikan lebih dekat. Kakak itu tersenyum.
“Namung kulo mung saget maringi niki,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah lukisan bergambar sepeda.
Aku sangat girang. Lagi-lagi aku mendapatkan lukisan dari Kakak Pelukis Cantik itu. Aku pun melakukan perintahnya dengan penuh suka hati. Kuselipkan tiap kertas pemberiannya --yang ternyata setelah kubaca, kertas itu adalah sebuah undangan pameran lukisan-- ke dalam koran yang akan kuantarkan untuk pelanggan yang lain. Aku begitu semangat melakukannya. Kuantarkan koran-koran itu ke pelangganku dengan harapan mereka membaca undangan yang kuselipkan di sana.
Aku begitu menanti esok hari akan datang dengan cepat. Aku bisa membayangkan bagaimana halaman rumah Kakak Pelukis Cantik yang biasanya sunyi dan damai itu akan dipenuhi banyak orang yang saling berbisik karena terkagum-kagum dengan lukisannya. Akhirnya, aku pun juga akan melihat isi rumahnya. Pasti perkiraanku benar. Pasti dinding rumah itu penuh dengan lukisan yang salah satunya adalah lukisan sepeda.
Ya pasti seperti itu. Esok pagi, kupastikan aku adalah orang yang pertama datang di sana. Aku tak boleh telat, benar-benar tak boleh telat. Tunggu aku Kakak Pelukis Cantik...
https://m.youtube.com/watch?v=QkFCQPm9g4k
-Loka Rupa by KOPI Production-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar