Dia tak pernah merasakan rasa
takut yang teramat sangat seperti ini. Tidak. Mungkin tidak hanya takut, tapi
juga sakit, bingung, dan resah. Sekali lagi, sepasang mata kecoklatan yang
berada di balik bingkai kacamata itu melirik sedikit ke arah dua pria yang ada
di depannya.
Apa yang harus aku dia lakukan?
Dan siapa pria yang akan ia kehendaki untuk menggenggam kedua tangannya di masa
mendatang?
.
.
.
Semuanya bermula ketika
perpisahan itu tiba. Sebuah perpisahan menyakitkan yang menyisakan sebuah janji
di dalamnya.
“Suatu saat nanti kita masih
bisa kembali bersatu, kan?”
Kala itu, dia tahu hatinya
dipenuhi dengan ketidakrelaan untuk melepas sosok pria yang ia cintai. Walaupun
terbilang tidak lama, semua kenangan indah itu seolah membekas di relung
hatinya hingga membuatnya sulit untuk melepaskannya satu per satu.
“Iya, kita bisa kembali
bersatu.”
Dan jawaban yang ia lontarkan
saat itulah yang menjadi bomerangnya sekarang. Pertemuannya kembali dengan pria
yang pernah ia cintai beberapa hari yang lalu, mau tidak mau menghadirkan
kenangan yang pernah bisa ia lupakan untuk sejenak di masa lalu. Dan juga...
janji di antara keduanya sebelum memulai perpisahan.
“Siapa yang akan kamu pilih?”
Pertanyaannya yang lagi-lagi
terasa menohok itu langsung membuat sang wanita mengangkat kepala dan
membuyarkan lamunannya tentang masa lalu. Takut-takut ia melirik seorang pria lagi yang ada di
depannya. Tatapan wanita itu melunak. Entahlah, mungkin juga merasa bersalah
saat memperhatikan wajah pria yang sedari tadi diam itu. Ia tahu, pria itu diam
bukan karena tidak peduli.
“Bisakah kita menundanya?”
Wanita itu tahu bahwa raut
kekecewaan terpancar jelas pada sosok yang menjadi kunci masa lalunya. Namun ia
sendiri bisa apa?
“Kamu bener nggak bisa jawab
sekarang, Pik?”
Sakit sekali rasanya mendengar
pertanyaan itu. Wanita itu merasa bahwa dirinya tak pantas untuk diharapkan
kembali oleh pria yang selama ini menunggunya. Menunggunya di saat ia mampu
menjawab semua permintaan pria itu dengan ucapan ‘ya’.
“Aku butuh waktu.”
Jawaban yang singkat, namun
mampu membuat raut wajah sang pria yang sedari tadi menatapnya dengan penuh
harap itu menjadi sendu.
“Aku percaya kamu, Pik,” ucap
sang pria sebelum meninggalkannya berdua di sana. Berdua dengan seseorang yang
lain.
Hanya ada hening. Baik sang
wanita maupun pria tak mampu mengucapkan barang satu kata. Semuanya berlalu
begitu cepat, pertemuan, cinta, jalinan kasih, pintu pernikahan, hingga sebuah
masa lalu yang datang mengancam. Semua hal itu seolah berputar mengisi
keheningan yang kaku di antara keduanya.
“Kamu mau pulang sekarang?”
tanya sang pria.
Sang wanita menatap tak percaya
sepasang mata pria yang duduk seraya tersenyum manis di hadapannya. Mengapa
mata itu terlihat tenang seperti biasanya? Mata itu seolah menyiratkan bahwa
tidak ada satu hal pun yang terjadi di antara mereka. Ya Tuhan, ataukah mata
itu berusaha mati-matian untuk menahan semuanya?
“Aku harus bagaimana?”
Perubahan air muka terjadi di
wajah sang pria saat pertanyaan itu terlontar sari mulut sang wanita. Menghela
napas pelan, ia memilih untuk menundukkan kepalanya. “Semua tergantung di
kamu.”
“Kamu tidak menginginkanku?”
Tak di sangka, sang pria
mengeluarkan tawa renyahnya. “Tidakkah kamu melihat bagaimana usahaku selama
ini untuk mendapatkanmu?”
Giliran sang wanita yang
menundukkan kepalanya. Terlalu panjang jika semua hal itu ia kenang sekarang.
Pengorbanan, kerelaan, perhatian, cinta, dan komitmen yang diberikan pria di
depannya ini pada masa lampau bahkan sanggup membuatnya untuk membuka hati
untuk yang kedua kalinya.
“Aku sangat menginginkanmu,
Pik. Aku menginginkanmu karena Tuhan.”
Sebaris kalimat itu pada
akhirnya mampu menciptakan setetes air mata di kedua mata sang wanita. Pertahanannya
runtuh sudah. Keegoisan dan jalan hidup yang harus ia tentukan kini kembali
mengoyak batinnya tiada ampun. Pria yang ia cintai karena hatinya, atau pria
yang ia cintai karena Tuhannya.
“Aku bimbang,” ucap sang wanita
setelah menangis menumpahkan seluruh beban hatinya.
“Semua jawaban berada penuh di
tangan kamu,” sahut sang pria. “Apapun jalan yang kamu pilih, semoga itu
benar-benar yang terbaik buat kamu.”
“Aku nggak mau menyakiti
siapapun.”
Tatapan sang pria tak terbaca
sedikit pun oleh sang wanita. Sepasang mata yang selalu menenangkan itu
terlihat begitu berat. Kesedihan terpancar jelas di dalamnya.
“Jika nanti bukan aku yang kamu
pilih, aku ikhlas.”
Sang wanita mengangkat
kepalanya cepat. Lagi-lagi ia tak menyangka jika itu kalimat yang terucap dari
sang pria.
“Aku mencintaimu. Selama ini aku
selalu yakin kalau kamu pecahan yang lain dari diriku. Walaupun nantinya akan
terasa sangat sakit, setidaknya aku ingin kamu selalu mengingatku.” Sang pria
menahan kalimatnya untuk mengambil napas. Sesak sekali rasanya, dan ia pun
memilih objek lain karena tak sanggup lagi menatap sepasang mata sang wanita. “Kembalilah
padanya jika kamu sangat mencintainya. Atau mungkin... jika cintamu padanya lebih
besar dari keinginanmu untuk berada di sisiku.”
Kalimat terakhir yang diucapkan
sang pria sebelum pergi mampu menciptakan sebuah rasa sakit di dasar perut sang
wanita. Tak ayal, air mata itu pun kembali menunjukkan kebimbangannya.
.
.
.
Ya Tuhan... mengapa Kau
gariskan aku takdir seperti ini? Mengapa Kau membuatku mengenal makna cinta di
masa lalu jika pada akhirnya Kau pisahkan aku dengan cinta itu? Lalu setelah
semuanya berlalu, mengapa Kau kembali mempertemukan aku dengan ketulusan yang
tiada tara jika pada akhirnya aku dihadapkan pada pilihan menyakitkan seperti
ini? Aku mencintai keduanya, namun aku juga tak bisa memiliki kedua-duanya.
Siapa yang harus aku genggam?








.jpg)







