This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Senin, 19 Agustus 2013

Dua Genggaman

Dia tak pernah merasakan rasa takut yang teramat sangat seperti ini. Tidak. Mungkin tidak hanya takut, tapi juga sakit, bingung, dan resah. Sekali lagi, sepasang mata kecoklatan yang berada di balik bingkai kacamata itu melirik sedikit ke arah dua pria yang ada di depannya.
Apa yang harus aku dia lakukan? Dan siapa pria yang akan ia kehendaki untuk menggenggam kedua tangannya di masa mendatang?
.
.
.
Semuanya bermula ketika perpisahan itu tiba. Sebuah perpisahan menyakitkan yang menyisakan sebuah janji di dalamnya.
“Suatu saat nanti kita masih bisa kembali bersatu, kan?”
Kala itu, dia tahu hatinya dipenuhi dengan ketidakrelaan untuk melepas sosok pria yang ia cintai. Walaupun terbilang tidak lama, semua kenangan indah itu seolah membekas di relung hatinya hingga membuatnya sulit untuk melepaskannya satu per satu.
“Iya, kita bisa kembali bersatu.”
Dan jawaban yang ia lontarkan saat itulah yang menjadi bomerangnya sekarang. Pertemuannya kembali dengan pria yang pernah ia cintai beberapa hari yang lalu, mau tidak mau menghadirkan kenangan yang pernah bisa ia lupakan untuk sejenak di masa lalu. Dan juga... janji di antara keduanya sebelum memulai perpisahan.
“Siapa yang akan kamu pilih?”
Pertanyaannya yang lagi-lagi terasa menohok itu langsung membuat sang wanita mengangkat kepala dan membuyarkan lamunannya tentang masa lalu. Takut-takut  ia melirik seorang pria lagi yang ada di depannya. Tatapan wanita itu melunak. Entahlah, mungkin juga merasa bersalah saat memperhatikan wajah pria yang sedari tadi diam itu. Ia tahu, pria itu diam bukan karena tidak peduli.
“Bisakah kita menundanya?”
Wanita itu tahu bahwa raut kekecewaan terpancar jelas pada sosok yang menjadi kunci masa lalunya. Namun ia sendiri bisa apa?
“Kamu bener nggak bisa jawab sekarang, Pik?”
Sakit sekali rasanya mendengar pertanyaan itu. Wanita itu merasa bahwa dirinya tak pantas untuk diharapkan kembali oleh pria yang selama ini menunggunya. Menunggunya di saat ia mampu menjawab semua permintaan pria itu dengan ucapan ‘ya’.
“Aku butuh waktu.”
Jawaban yang singkat, namun mampu membuat raut wajah sang pria yang sedari tadi menatapnya dengan penuh harap itu menjadi sendu.
“Aku percaya kamu, Pik,” ucap sang pria sebelum meninggalkannya berdua di sana. Berdua dengan seseorang yang lain.
Hanya ada hening. Baik sang wanita maupun pria tak mampu mengucapkan barang satu kata. Semuanya berlalu begitu cepat, pertemuan, cinta, jalinan kasih, pintu pernikahan, hingga sebuah masa lalu yang datang mengancam. Semua hal itu seolah berputar mengisi keheningan yang kaku di antara keduanya.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanya sang pria.
Sang wanita menatap tak percaya sepasang mata pria yang duduk seraya tersenyum manis di hadapannya. Mengapa mata itu terlihat tenang seperti biasanya? Mata itu seolah menyiratkan bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi di antara mereka. Ya Tuhan, ataukah mata itu berusaha mati-matian untuk menahan semuanya?
“Aku harus bagaimana?”
Perubahan air muka terjadi di wajah sang pria saat pertanyaan itu terlontar sari mulut sang wanita. Menghela napas pelan, ia memilih untuk menundukkan kepalanya. “Semua tergantung di kamu.”
“Kamu tidak menginginkanku?”
Tak di sangka, sang pria mengeluarkan tawa renyahnya. “Tidakkah kamu melihat bagaimana usahaku selama ini untuk mendapatkanmu?”
Giliran sang wanita yang menundukkan kepalanya. Terlalu panjang jika semua hal itu ia kenang sekarang. Pengorbanan, kerelaan, perhatian, cinta, dan komitmen yang diberikan pria di depannya ini pada masa lampau bahkan sanggup membuatnya untuk membuka hati untuk yang kedua kalinya.
“Aku sangat menginginkanmu, Pik. Aku menginginkanmu karena Tuhan.”
Sebaris kalimat itu pada akhirnya mampu menciptakan setetes air mata di kedua mata sang wanita. Pertahanannya runtuh sudah. Keegoisan dan jalan hidup yang harus ia tentukan kini kembali mengoyak batinnya tiada ampun. Pria yang ia cintai karena hatinya, atau pria yang ia cintai karena Tuhannya.
“Aku bimbang,” ucap sang wanita setelah menangis menumpahkan seluruh beban hatinya.
“Semua jawaban berada penuh di tangan kamu,” sahut sang pria. “Apapun jalan yang kamu pilih, semoga itu benar-benar yang terbaik buat kamu.”
“Aku nggak mau menyakiti siapapun.”
Tatapan sang pria tak terbaca sedikit pun oleh sang wanita. Sepasang mata yang selalu menenangkan itu terlihat begitu berat. Kesedihan terpancar jelas di dalamnya.
“Jika nanti bukan aku yang kamu pilih, aku ikhlas.”
Sang wanita mengangkat kepalanya cepat. Lagi-lagi ia tak menyangka jika itu kalimat yang terucap dari sang pria.
“Aku mencintaimu. Selama ini aku selalu yakin kalau kamu pecahan yang lain dari diriku. Walaupun nantinya akan terasa sangat sakit, setidaknya aku ingin kamu selalu mengingatku.” Sang pria menahan kalimatnya untuk mengambil napas. Sesak sekali rasanya, dan ia pun memilih objek lain karena tak sanggup lagi menatap sepasang mata sang wanita. “Kembalilah padanya jika kamu sangat mencintainya. Atau mungkin... jika cintamu padanya lebih besar dari keinginanmu untuk berada di sisiku.”
Kalimat terakhir yang diucapkan sang pria sebelum pergi mampu menciptakan sebuah rasa sakit di dasar perut sang wanita. Tak ayal, air mata itu pun kembali menunjukkan kebimbangannya.
.
.
.
Ya Tuhan... mengapa Kau gariskan aku takdir seperti ini? Mengapa Kau membuatku mengenal makna cinta di masa lalu jika pada akhirnya Kau pisahkan aku dengan cinta itu? Lalu setelah semuanya berlalu, mengapa Kau kembali mempertemukan aku dengan ketulusan yang tiada tara jika pada akhirnya aku dihadapkan pada pilihan menyakitkan seperti ini? Aku mencintai keduanya, namun aku juga tak bisa memiliki kedua-duanya.

Siapa yang harus aku genggam?

Rabu, 24 Juli 2013

The Meet

Oke, ini memang aneh. Tapi selama lebih dari tiga jam aku di cafe ini, tak henti-hentinya aku memandang objek yang berada di sudut ruangan sana. Cahaya yang berpendar redup, alunan musik klasik, serta sunyinya suara yang tercipta di ruangan ini semakin membuat konsentrasiku bertuju kepadanya.

Tuhan... siapa orang itu?

Kulirik lagi dia dari ujung latop yang sejajar dengan hidungku. Dia bukanlah pria yang tampan kukira. Lihat, kulitnya saja terlihat seperti baru saja berjemur lebih dari dua hari. Dia hitam. Yah, menurutku dia bisa dikategorikan orang berkulit hitam. Tapi... kenapa kulit hitamnya yang dilapisi t-shirt orange berkerah v-neck itu semakin membuatnya terlihat jantan? Lengannya yang tidak seberapa besar seolah-olah mengundang imajinasiku untuk berada di dalam pelukannya.

Tidak tidak. Ya Tuhan... alihkan perhatianku.

Kufokuskan lagi pandangan ke layar laptopku. Oke, ini sudah hampir akhir bulan, dan lusa adalah deadline ku mengerjakan laporan keuangan kantor. Mau tidak mau aku harus bisa mencicil kekurangannya sekarang supaya namaku masih bisa bertahta di meja kantorku.

“Green tea satu.”

Demi usaha keras bosku untuk menumbuhkan rambut di kepala botaknya, aku menoleh cepat ke arah sumber suara itu. Tempat dudukku yang memang bersebelahan dengan bar memaksaku untuk mengalihkan konsentrasi yang baru saja terkumpul pada pekerjaanku. Suara itu... astaga... begitu memikat dengan logat timurnya. Berat, namun sedikit serak. Sebaris kalimat itu membuat otakku menduga bahwa pria berkaos orange itu mungkin berasal dari pulau Sulawesi atau Lombok.

Sedetik setelahnya, sepasang mata dengan iris coklat gelap itu seakan mempergokiku karena sedari tadi telah mengawasinya. Oh Tuhan, jika saja aku tak menyadari warna matanya, aku pasti akan langsung bisa memalingkan muka. Tapi mengapa aku malah terpaku menatapnya?

Senyuman itu tercipta. Senyuman yang sedari awal aku pertanyakan bentuknya. Yah... senyuman itu untukku. Senyuman yang semakin membuatnya terlihat mempesona itu untukku. Dengan kesadaran untuk mengontrol diri yang masih tersisa, kukembangkan senyumku dengan ragu dan kaku. Di saat seperti ini, bisa-bisanya aku malah menambahi dengan sapaan singkat?

“Hai,” ucapnya membalas sapaanku, tentunya kali ini dengan senyum ramah yang lebih merekah dari sebelumnya.

It must be over!!

Aku menunggunya kembali ke tempatnya, namun aku tak benar-benar memandangnya lagi. Di dalam hati, aku menegaskan bahwa aku tak boleh membuat diriku malu lagi. Cukup dengan hal itu, yah  cukup dengan sapaan itu.

Setelah kupastikan dari sudut mataku dia sudah duduk, dengan segera aku meraih dan menata seluruh dokumen yang kuletakan di atas meja. Gerakanku cepat, namun kupastikan tidak terkesan terburu-buru. Setelah semuanya berada di dalam map, kututup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Bagaimanapun aku harus cepat pergi dari sini. Tak tahu di mana lagi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, yang penting aku harus pergi terlebih dahulu.

Aku keluar, setelah melewati pintu cafe, aku segera mencai kunci mobil di kantong tas ku.

“Kunci kamu.”

Aku menoleh cepat. Pria itu, pria yang membuatku gila hanya dalam beberapa menit itu berdiri di hadapanku. Kami berdiri begitu dekat, aku bahkan bisa mencium samar aroma parfumnya. Paco Rabbane.

“Eh.. Ma-makasih,” sahutku gagap. Ya Tuhan, seharusnya aku lebih bisa mengontrol diri.

“Sama-sama, Sarah.”

Aku mengerjap. Barusan dia memanggilku Sarah. Aku membuka mulut, mencari bagaimana susunan kata yang tepat untuk menanyakan bagaimana dia bisa tahu namaku.

“Gantungan kunci mobilmu,” jawab pria itu seolah-olah sudah membaca pikiranku.

Oh ya, gantungan kunciku.

Aku mengangguk paham. Ya, memangnya darimana lagi dia bisa tahu namaku? “Sekali lagi makasih ya...” Oke, kali ini giliranku yang harus menyebutkan namanya.

“Leo.”

“Ah ya.” Leo! Namanya Leo! Ya Tuhan... “Makasih, Leo. Aku emang lupaan kadang-kadang.”

Leo kembali tersenyum. Senyuman yang sama mempesonanya dengan yang tadi.

“Oke, aku harus pergi dulu,” ucapku memecah kesunyian yang sempat tercipta.

“Ya, hati-hati.”

Aku memutar badan. Berjalan kaku menuju mobil. Yah, bagaimana tidak kaku jika semua hal yang tidak terduga terjadi begitu cepat hari ini. Baru saja aku membuka pintu mobil, suara Leo yang memanggil namaku dan derap langkah yang mendekat membuatku kembali menoleh.

“Emmm...” Leo menggaruk kepalanya. Aku jadi sedikit ilfeel. Apa pria ini kutuan? “Kamu sering ke cafe sini kan?”

Aku mengangguk.

“Kalau misalnya sewaktu-waktu kita ketemu lagi buat ngobrol-ngobrol bareng bisa, kan?”

Aku ternganga. Tuhan... apakah telingaku tersumpal sesuatu?

“Emm.. gini. Aku kan baru tiga hari di kota ini, aku juga kadang nggak ngerti sama bahasa asli sini. Jadi kalau misalnya ketemu, trus kita ngobrol-ngobrol tentang kota ini boleh kan?” Senyuman Leo di akhir kalimat pria itu entah mengapa seperti memberitahuku bahwa aku harus bilang ‘iya’.

“Boleh. Lagian aku juga suka tempat ini.”

Leo tertawa. “Oke, kalau seperti ini kan aku nggak perlu sewa tour guide.”

Kali ini aku yang tertawa. “Aku nggak gratis loh yaaa...”

“Haha, iya aku tahu. Jadi kapan kira-kira kita bisa ketemu lagi di sini?”

Aku menelan ludah. Terkejut seklaigus berpikir. “Gimana kalau lusa? Saat makan siang.

“Usulan bagus.”

Aku tersenyum, semata-mata menutupi rasa gugupku.

“Lusa, makan siang. Aku traktir deh!” ucap Leo.

Aku hanya bisa mengangguk-angguk setuju. “Boleh. Oke, kalau begitu aku masuk dulu ya?”

Leo mengangguk. “Hati-hati.”

Setelahnya, aku masuk ke dalam mobil. Dari kaca spion, kulihat Leo malambaikan tangannya. Aku tersenyum. Memasukkan gigi, aku pun mulai menjalankan mobil.
.
.
.
Tuhan, hari ini serasa mimpi...
.
.

.

Minggu, 21 Juli 2013

I Can Feel Your :)

Kelas yang tidak terlalu luas, jumlah jendela yang sedikit, dan kipas angin yang menyala pelan. Oh... sungguh itu terasa menyiksa bagi Kirana, apalagi ditambah suara bising yang mendengung dari para teman-temannya yang entah membicarakan apa.

Hari ini jumlah mata pelajarannya tidak begitu banyak. Mendekati jam-jam terakhir seperti ini, merupakan hal wajar jika guru tidak masuk ke kelas untuk mengajar murid-muridnya. Alasannya sih banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan, lagi pula mereka juga memberikan catatan sebagai pengganti keabsenan mereka. Namun Kirana tak mau semudah itu mempercayainya. Bisa saja kan mereka belanja? Pergi ke salon? Tertawa-tertawa sambil menyeruput teh atau kopi? Pasti ada alasan lain selain alasan klasik itu.

Hahh... memang beginilah terlahir sebagai orang yang tidak mudah percaya. Selalu berpikir yang tidak-tidak.

Kirana mengubah posisi kepalanya yang ia letakkan di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, ia sedikit mengutuk nasibnya yang masuk ke jurusan broadcasting. Sebelumnya ia memilih jurusan desain, namun jumlah nilainya sama sekali tak mengijinkannya. Andai saja ia bisa masuk kelas desain, teman-temannya pasti tidak akan seberisik ini, karena menurut rumor, anak-anak jurusan desain cenderung sopan dibandingkan teman-temannya yang bisa dibilang sedikit bar bar.

Suara musik mellow yang mengalun keras dari ear phone yang terpasang di telinganya, membuat Kirana bisa merasa tenang. Ia bahkan mulai mengantuk dalam keadaan berisik seperti ini. Dengan mata yang mulai sayu, Kirana memperhatikan Mira yang tengah bergurau dengan teman sekelasnya yang lain.

Kirana menghela napas pelan. Akan sangat menyenangkan jika ia seperti Mira. Cewek manis berambut panjang yang kini menjadi teman sebangkunya itu memiliki kepribadian yang berbeda dengannya. Mira begitu menyenangkan bagi semua orang. Cewek itu selalu terlihat anggun, senyumnya juga terlihat menyenangkan. Dari selentingan kabar yang ia dengar, banyak anak-anak cowok di sekolahnya yang naksir Mira. Bahkan diantaranya adalah kakak kelas.

Sentuhan pelan di pundak Kirana tidak terasa nyata bagi cewek itu. Entah karena mengantuk atau memang tidak peka, Kirana tidak terlalu menanggapinya dan kembali mencoba untuk memejamkan matanya.

"Tau Mira nggak?"

Kali ini tidak ada yang tidak nyata. Suara itu bahkan sampai terdengar di telinga Kirana yang disumpal ear phone. Menegakkan tubuhnya malas, Kirana menunjuk posisi Mira berada tanpa repot-repot memandang dulu orang yang mengajaknya berbicara. "Di sana."

Kirana menegang saat mengetahui siapa orang yang berdiri di samping bangkunya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Mulutnya terbuka sedikit, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Alhasil, saat ia memanggil Mira, suaranya terdengar aneh. "Mir! Mira!" panggil Kirana sambil terus menatap orang itu.

Tak butuh panggilan ketiga untuk membuat Mira datang. Cewek itu langsung menghampiri Kirana dengan senyum manisnya. "Eh, Evan. Ada apa?"

Ah... Kirana langsung tahu kenapa Mira tersenyum seperti itu.

"Bisa nitip ini nggak?"

"Apa ini?" Mira ganti bertanya saat cowok yang bernama Evan itu menyodorkan sebuah kertas.

"Form pendaftaran ekskul panah. Kamu ikut kan?"

Mira mengangguk.

"Nanti aku ada seleksi ekskul sepak bola, jadi nggak bisa dateng buat ngasih itu."

Oke, Kirana mulai paham. Jadi Evan nitipin pendaftaran ekskul panah ke Mira karena cowok itu harus ikut seleksi ekskul sepak bola.

Tapi... kenapa harus Mira? Dan kenapa Evan langsung tahu Mira ikut ekskul panahan?

"Oke, titipin aku aja nggak papa. Nanti pasti aku sampaikan alasan kamu."

Untuk kedua kalinya setelah bertemu dengan Evan, Kirana melihat senyum cowok itu sekali lagi. Namun senyum kali ini bukan senyum geli yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

"Thanks yah?" ucap Evan.

Mira mengangguk, tentu dengan senyumnya seperti biasa.

Saat itu, Kirana mengira Evan akan pergi begitu saja meninggalkan ruang kelasnya. Namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Evan menyunggingkan senyum untuknya sambil menggumam kalimat pamit. Demi apapun yang membuat Kirana bete hari itu, Kirana merasa seperti ada sebuah benda yang menggeliat di perutnya. Jantungnya berdetak kian cepat, sedangkan pipinya terasa terbakar hingga ke belakang telinga.
.
.
Astagaa... perasaan apa ini?
.
.
.
"Kirana?"

Kirana menoleh cepat ke arah Mira. Sedikit gelagapan menanggapi cewek yang kini melihatnya heran itu. "Y-ya, Mir?"

"Kamu sakit? Wajahmu kok merah?"

Omaigad....

"Nggak. Enggak kok, Mir."

"Jangan bohong loh!" Mira mengacungkan jari telunjuknya ke arah Mira. "Daritadi kamu kelihatan lemes, kamu pusing yah?"

Kirana melepas ear phone-nya, mencari topik lain untuk dibicarakan. "Jadi kamu ikut ekskul panah?"

Mira terlihat curiga, mungkin karena Kirana yang tiba-tiba memutar arah pembicaraan. Tapi ujung-ujungnya, cewek itu toh menyahut juga. "Iya. Kamu jadi ikut apa?"

"Nggak tahu," jawab Kirana enteng. Ia memang malas mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. "Kamu suka panahan?"

Mira mengangguk. "Dari SMP."

Kirana mulai tergelitik pertanyaan yang tadi sempat muncul di pikirannya. "Trus kok cowok tadi nitip ke kamu? Kalian temenan?"

"Iya, Evan temen SMP-ku. Kita emang nggak seberapa deket sih, yah... tapi setidaknya kenal lah."

Oh... jadi seperti itu.

Jadi itu alasan mengapa Evan mempercayai Mira untuk menyerahkan form-nya, dan mengapa cowok itu langsung tahu Mira ikut kegiatan panahan.

Mereka adalah teman. Yah.. teman.
.
.
.
Mengetahui hal itu, entah kenapa Kirana merasa sedikit lega.
.
.
.

Minggu, 26 Mei 2013

"Kamu...?"

Untuk yang kesekian kalinya Kirana menghembuskan napasnya kasar. Hari ini adalah hari yang sangat tidak bersahabat baginya. Hari dimana ia memulai pengalaman baru sebagai siswa SMK, ternyata membuat dirinya semakin merasa asing seperti biasanya.

Kirana memperhatikan beberapa cewek yang sedang mengobrol sambil sesekali tertawa di meja kantin. Entah apa yang mereka bicarakan, Kirana tidak begitu tertarik. Tiga hari menjalani masa orientasi membuatnya sedikit mengenal para cewek-cewek itu. Banyak diantara mereka bertingkah sok pemberani dan sok pemberontak. Tidak ditunjukkan secara langsung pun, Kirana dapat memahami hal itu dari cara mereka berbicara. Klasik. Setiap orang pasti akan menunjukkan kesan mengagumkan tentang dirinya pada saat awal perkenalan. Kirana yakin, empat bulan setelah perkenalan awal, mereka pasti akan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Angin yang berhembus pelan mengibarkan rambut sebahu Kirana yang dikuncir satu di belakang rambutnya. Nyaman sekali duduk sendirian di bawah pohon seperti ini.  Walaupun sedari tadi banyak yang memandangnya heran, Kirana mencoba tak ambil peduli.

"Kirana?"

Kirana menoleh. Terlihat seorang cewek berambut panjang melambaikan tangan sambil mendekat ke arahnya. Wajah cewek ini tak asing bagi Kirana.

"Kamu ngapain di sini?"

Ooh... Kirana ingat. Cewek ini salah satu teman sekelasnya yang baru. Tapi siapa ya namanya? "Duduk-duduk aja cari angin."

Cewek itu ngangguk paham. Dia pun turut duduk di samping Kirana. "Mana Shasa?"

Kirana sedikit terkejut saat cewek di depannya ini menanyakan teman sebangkunya yang baru. Ia pun mengedikkan dagunya ke arah kantin. "Tadi dia di sana, tapi gak tau sekarang di mana."

"Kamu nggak ke sana?"

"Males."

"Kenapa?"

"Di sana rame banget. Eh, nama kamu siapa? Aku lupa." Bohong. Yang benar adalah tidak tahu, bukan lupa.

Cewek itu tersenyum. "Mira."

"Oh iya. Mira," ucap Kirana sambil menepuk jidatnya seolah-olah teringat sesuatu. Akting yang buruk.

"Trus kamu gak jajan nih? Lima menit lagi masuk kelas loh."

Kirana diam. Menimbang apa lebih mementingkan rasa malasnya untuk ke kantin, atau keadaan perutnya yang keroncongan.

"Kalau males ke kantin, kita cari di depan aja," ucap Mira seolah-olah paham tentang apa yang dipikirkan Kirana.

"Ada pentol gak sih di depan?"

"Ada. Cireng, batagor, otak-otak, siomay, semua ada."

Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung saja mengamit tangan Mira dan mengajak cewek itu pergi dari sana. Di pikirannya, kini terbayang rasa pentol yang sebentar lagi akan dia rasakan. Dikatakan maniak pentol pun, Kirana menerima julukan itu dengan senang hati karena memang begitulah sebenarnya.

Namun apa yang diharapkan Kirana tak seperti apa yang terjadi sekarang. Kirana pun berhenti tak jauh dari gerbang sekolahnya dengan masih memegang tangan Mira di belakangnya. "Nggak di kantin, nggak di sini, semuanya penuh orang, Mir."

Mira tak berkomentar, sedangkan Kirana masih setia meratapi nasib pentolnya. Masalah yang timbul masihlah sama. Keramaian. Entah kenapa Kirana membenci hal itu. Sekarang apa yang bisa ia lakukan? Menoleh kesana-kemari pun percuma. Yang sempat terlihat dalam penglihatan Kirana malah seorang cowok yang berjalan mendekati Mira, tapi cewek berambut sebahu itu tidak ingin memikirkan hal itu. Perutnya sudah keroncongan minta diisi.

Pandangan Kirana beralih ke penjual otak-otak yang sepi pembeli. Kali ini bentrok dua kubu seakan bergejolak di pikirannya. Di satu sisi ia tidak terlalu menyukai otak-otak, tapi di sisi lainnya lagi merasa sangat lapar. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, kalau Kirana terus berdiri di sini sambil menunggu gerbang sekolahnya sepi, mustahil ia akan bisa masuk kelas tepat waktu.

Setelah menentukan pilihan akhirnya, Kirana kembali menarik tangan Mira dan menarik tangan teman barunya itu tanpa menoleh. Hatinya dengan mantap memilih otak-otak sebagai penghilang laparnya.

"Beli otak-otak aja, Mir! Nungguin pentol kelamaan," cerocos Kirana. Di belakangnya, Kirana tak mendengar Mira berkomentar. Kirana pun mempercepat langkahnya. Entah mengapa Kirana merasa Mira lebih berat dari sebelumnya.

"Otak-otak satu pedas, Pak," pesan Kirana. Cewek itu mengibaskan kunciran rambutnya yang sedikit lepek karena keringat. Di sebelahnya, Mira tidak mengatakan apapun, dan itu menarik perhatian Kirana yang sedari tadi sedikit merasa heran.

"Kamu nggak pes-en, Mir?" suara Kirana tenggelam di dua suku kata terakhir. Kali ini ia sudah benar-benar membalikkan badannya, namun apa yang ia lihat sekarang membuat seluruh tulangnya seakan lumpuh seketika.

Sosok yang Kirana lihat sekarang tengah melipat kedua tangan di depan dada dan terus memandang Kirana yang lebih pendek darinya. "Mira gak suka otak-otak. Dia maunya batagor."

Langsung saja Kirana mundur selangkah. Dia masih tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Kenapa bukan Mira? Kenapa seorang cowok yang nggak Kirana kenal? Dan bodohnya kenapa Kirana baru menyadarinya sekarang? Dilihatnya tempat dimana Mira berdiri sedari tadi. Cewek berambut panjang itu hanya menutup mulutnya sambil memandang kaget ke arah Kirana. Di dalam hati, Kirana ingin sekali menggigit Mira. Bisa-bisanya temannya itu hanya diam saja dan membiarkannya berada dalam posisi memalukan seperti ini?

"Tuh, otak-otakmu!"

Lagi-lagi Kirana terlihat linglung. Ia pun mengambil bungkusan otak-otak yang ia pesan dengan kaku layaknya robot yang tidak berpelumas. "Enggg... anu..." Entah kenapa susah sekali permintaan maaf itu terucap.

"Anu apa?"

"M-maaf ya?"

Cowok itu tiba-tiba tersenyum, entah karena apa. Wajahnya yang sedari tadi terlihat kaku, kini terlihat sumringah. "Lain kali noleh dulu sebelum narik tangan orang." Setelah mengatakan itu, cowok tersebut pergi begitu saja dan meninggalkan Kirana yang masih terpaku. Bener-bener deh, Kirana terlihat begitu konyol sekarang.

"Kirana?"

Panggilan Mira dari jauh segera membuat perhatian Kirana teralih dari punggung cowok itu. Terlihat di sana Mira tengah melambai-lambaikan tangan dan menyuruh Kirana untuk cepat menghampirinya. Tak banyak berpikir, Kirana pun melangkahkan kakinya menghampiri Mira.

Namun sekali lagi Kirana menoleh ke punggung cowok tadi. Punggung itu kini sudah tak terlihat karena banyaknya punggung yang lain di sana. Entah kenapa, tiba-tiba Kirana sungguh ingin melihat punggung itu lagi.
.
.
.
Ah, siapa ya nama cowok itu?
.
.
.
.





Rabu, 03 April 2013

Saya Tidak Ingin Menyesal

Entah ini bisa disebut galau atau apa. Jalan yang saya pilih ternyata mampu merubah pola dan gaya hidup saya. Walaupun masih belum sepenuhnya, sedikit perasaan khawatir tiba-tiba terselip di dalam lubuk hati saya.

Selama ini saya hidup bebas dari apa yang disebut dengan 'konflik.' Sebagaimana yang tertera di bio, saya adalah orang yang cinta akan kedamaian. Saya tidak terlalu ingin memikirkan apa yang diperbuat orang lain.
Selama itu tidak terlalu mengganggu dan merugikan saya, saya tetap akan mengacuhkannya seperti tidak terjadi apa-apa. Namun ketika saya memilih hal yang saya sendiri tidak tahu alasan mengapa saya memilihnya, semuanya terasa berubah. Pribadi saya yang mungkin terlalu pengecut untuk mencari kesalahan orang lain, kini harus terpaksa hilang karena pilihan saya sendiri.




Saya tidak munafik. Sampai saat ini, saya belum menemukan hal apa yang akan membuat saya tetap konsisten di jalan yang telah saya pilih. Sempat terbesit sebuah pemikiran bahwa saya akan hengkang dari sana, namun sekali lagi ego saya yang mematahkan semuanya.

Sepanjang delapan belas tahun hidup saya, saya selalu mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Memang sudah banyak hal yang saya pelajari, namun tetap saja terasa kurang. Mungkin untuk sekarang ini, tanggung jawab adalah adalah ujian terberat yang harus saya laksanakan.

Apa yang sebelumnya pernah saya ungkapkan sebelum melangkah masuk, kini terasa bomerang bagi saya sendiri ketika saya ingin melangkah keluar. Pasti akan terasa seperti menampar wajah saya sendiri di depan banyak orang jika saya tetap menguatkan hati untuk melakukannya. Dan saya merasa, saya tidak akan sanggup menanggung malu kepada diri saya sendiri. Bukan rasa malu kepada orang lain, tetapi kepada diri saya sendiri karena saya bukan orang yang akan menyusahkan saya sendiri untuk memikirkan malu kepada orang lain.




Saat ini saya terlalu takut untuk mengatakan sebaris kalimat penyesalan. Saya tetap tidak ingin menyesal, namun hati saya tidak dapat terbohongi. Apa yang saya lihat sebelumnya sungguh berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang. Dan itulah salah satu alasan kekerasan kepala bagi 'hati' saya untuk tetap mengatakan 'menyesal.'

Walaupun belum benar-benar merasakannya di dalam hidup saya, saya percaya bahwa hal apa saja yang kita kerjakan pasti akan memiliki sisi negatif dan positifnya. Dan apa yang kita kerjakan sekarang, pasti akan membawa manfaat di masa depan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sama seperti matahari yang membawa cahaya ketika terbit, saya percaya bahwa apa yang saya lakukan sekarang pasti akan membawa cahaya di kehidupan saya yang akan datang.




Apapun yang terjadi, saya sudah bertekad untuk terus melangkah di jalan yang sekarang saya tempuh. Saya tidak ingin memikirkan hal-hal negatif yang mungkin akan saya dapatkan dan berdampak buruk bagi hati saya. Yang ingin saya tanamkan di dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya mendapatkan banyak hal positif yang bisa saya temukan di jalan saya yang sekarang.

Saya bisa. Saya percaya...


-RAWKS-

Selasa, 15 Januari 2013

Saya Patah Hati, Tapi Saya Bahagia


Malam-malam seperti ini, tangan saya terasa sangat gatal untuk tidak mengutarakan unek-unek saya yang sudah saya pendam sejak lama. Saya sedih, pengen nangis, tapi juga pengen tersenyum bahagia di saat bersamaan. Sosok lelaki yang saya idam-idamkan dalam hidup saya sejak di bangku SMP telah memilih untuk bersanding dan memulai kehidupan dengan wanita lain. Wanita yang jauuuuh lebih pantas dari saya. Secuil kukunya pun saya gak ada apa-apanya.

Memang udah lumayan lama sih, sekitar hampir tiga bulan yang lalu. Pertama kali saya denger berita kalau dia akan menikah dengan wanita pilihannya, saya syok. Saya nggak tahu harus ngomong apa. Saya sedih dan pengen nangis, tapi juga bahagia karena kebahagiaannya. Beberapa hari saya lalui dengan perasaan yang gak enak banget. Gimana nggak enak kalau dia mengumumkan pernikahannya secara tiba-tiba? Saya pun nggak tahu kalau selama setahun ini dia udah punya pacar.


Lihat, masa kecilnya aja udah nge-gemesin kan?
Bikin 'nyehhh'




Dan ini lah 'dia'....




Banyak orang yang menertawakan saya ketika dia menikah. Di antaranya teman-teman yang sudah paham abis tentang saya. Ibuk saya pun juga demikian :(
Setelah dia menikah, hidup saya serasa hampa *ngusep ingus



Sekarang udah bukan 'Calon Bini' lagi :(



Saya paham alasan mengapa berita pernikahan mereka terkesan mengejutkan. Menurut saya Vino bukanlah artis yang suka menggembar-gemborkan berita. Dia termasuk orang yang 'talk less do more', dia juga jarang terkena gosip seperti artis kebanyakan, maka dari itu sekali ada berita tentang dia nikah, semuanya langsung heboh. Hiks... termasuk saya T.T






Tapi yang seperti saya bilang tadi, saya bahagia atas pernikahan keduanya. Marsha Timothy juga orang yang tepat untuk idola saya. Saya selalu berharap kalau mereka bisa bahagia bersama hingga maut yang memisahkan mereka. Saya nggak bisa bayangin anak-anak mereka nanti bagaimana. Aiiihhhh.... pasti lucu-lucu, bapaknya ganteng, mamanya juga cantiiiiik >.<



Wish you are the best, guys.
Jadilah keluarga sakinah, mawadah, dan waROCKSmah.




Yang kedua, saya kembali dibuat patah hati oleh seorang pria. Walaupun keberadaan pria ini di hati saya tidak selama Vino Bastian, saya tetap iri ketika melihat fotonya dengan sang istri. Huuuuu T.T

Oguri Shun as Takiya Genji



Saya jatuh cinta pertama kali sama orang itu ketika temen saya nyodorin film Crows Zero 2 beberapa bulan terakhir. Dan... ahhhhh >.< saya langsung terpesona sama dia. Dari situ saya getol mencari tahu tentang dia. Mulai dari nama lengkap, umur, karir, bahkan sampai golongan darah. Beneran deh... saya kelepek-kelepek sama pesona dia.


Tapi.... dia udah nikah T.T



Nama istrinya Yamada Yu, dia seorang model dari Jepang. Oguri Shun sudah mendaftarkan pernikahannya sejak Maret 2012, tapi baru menyelenggarakan resepsi pernikahannya 5 Januari kemarin di Hawai. Gilaaaa... bahagia banget pasti mereka T.T
Tapi sebagaimana Vino Bastian, aku turut bahagia juga atas pernikahan Oguri Shun. Walaupun aku baru mengidolakannya, dan terlambat mengetahui berita tentang pernikahannya, aku selalu mendoa'akan yang terbaik untuk Oguri Shun dan Yamada Yu.



Bahagia selalu yaaahh....



Melihat dua pria di atas, entah mengapa menurut saya mereka memiliki beberapa kemiripan dalam hal berbeda. Mungkin itu juga kali yah yang bikin saya mengidolakan keduanya, karena mereka berdua memang tipe saya >.<



Vino Giovanni Bastian




Oguri Shun



They're so hot, right? >.<
Yang pertama, keduanya merupakan aktor muda yang mempunyai karakter akting yang tidak kalah memukau dari senior-senior mereka. Mereka juga sangat totalitas ketika memerankan sebuah karakter di semua karya mereka, baik itu mini seri, maupun layar lebar. Untuk Vino, saya tahu dia sudah meraik banyak penghargaan di dunia akting, tapi untuk Shun saya tidak tahu sama sekali. Tapi saya percaya kalau dia termasuk salah satu jajaran aktor Jepang yang patut diacungi jempol. Menurut saya Vino dan Shun cucok diberi peran anak berandalan, hehe. Tapi polisi dan pengusaha juga bagus. Aiiihhhh.... semuanya bagus deh kalau mereka yang peranin >.<

Kedua, mereka sama-sama lahir di tahun yang sama >.<
Sekarang umur mereka sudah 30 tahun. Kalau Vino 24 Maret, Shun 26 Desember. Duhhh... mereka berdua tidak terlihat seperti umur mereka, hihihihi.
Sama seperti Vino, Shun punya kulit yang bersih dan postur tubuh tinggi yang menawan, Shun mungkin malah lebih tinggi dari Vino. Aku paling suka kalau melihat punggung keduanya dari belakang  >.< Tak ada kata yang pas kecuali 'seksi' hahahahahaha...

Yang ketiga, mereka menikah di tahun yang sama T.T
Untuk masalah ini saya nggak mau jelasin panjang lebar. Saya nggak sanggup *sesek napas

Tapi yang jadi perbedaan mereka adalah gaya hidup. Menurut ceritanya sendiri Vino bukanlah orang yang suka merokok, apalagi minum-minum. Yang dilihat oleh semua orang selama ini ketika di film hanyalah untuk keperluan akting, bahkan ketika  bermain film 'Realita Cinta dan Rock n Roll', Vino baru belajar merokok saat itu, dan saya mempercayainya :)
Untuk skandal, Vino memang pernah menjalin cinta dengan salah satu sutradara kece Upi Avianto. Hubungan mereka memang sudah diketahui media, tapi setelah sekian lama mereka tidak tampil bareng di layar kaca, tau-tau Vino sudah mengumumkan berita pernikahannya dengan Marsha Timothy.

Kalau Shun orang yang perokok berat. Dia juga nggak bisa lepas dari sake --"
Shun ini katanya juga termasuk salah satu aktor 'bad boy' di Jepang. Dia pernah bawa cewek ke apartemennya dengan posisi dia sudah pacaran dengan Yu *pingsan
Tapi mungkin itu salah satu perjalanan cerita cinta mereka sebelum mereka benar-benar sudah bersatu seperti sekarang.




Betapa indahnya dunia jika memiliki dua suami seperti mereka >.<

Vino G. Bastian & Marsha Timothy



Oguri Shun & Yamada Yu


Saya patah hati, tapi saya bahagia atas kebahagiaan dua idola saya :)



-RAWKS-