This is my life

This is my life
Just me, my Lord, and my life story...

Rabu, 24 Juli 2013

The Meet

Oke, ini memang aneh. Tapi selama lebih dari tiga jam aku di cafe ini, tak henti-hentinya aku memandang objek yang berada di sudut ruangan sana. Cahaya yang berpendar redup, alunan musik klasik, serta sunyinya suara yang tercipta di ruangan ini semakin membuat konsentrasiku bertuju kepadanya.

Tuhan... siapa orang itu?

Kulirik lagi dia dari ujung latop yang sejajar dengan hidungku. Dia bukanlah pria yang tampan kukira. Lihat, kulitnya saja terlihat seperti baru saja berjemur lebih dari dua hari. Dia hitam. Yah, menurutku dia bisa dikategorikan orang berkulit hitam. Tapi... kenapa kulit hitamnya yang dilapisi t-shirt orange berkerah v-neck itu semakin membuatnya terlihat jantan? Lengannya yang tidak seberapa besar seolah-olah mengundang imajinasiku untuk berada di dalam pelukannya.

Tidak tidak. Ya Tuhan... alihkan perhatianku.

Kufokuskan lagi pandangan ke layar laptopku. Oke, ini sudah hampir akhir bulan, dan lusa adalah deadline ku mengerjakan laporan keuangan kantor. Mau tidak mau aku harus bisa mencicil kekurangannya sekarang supaya namaku masih bisa bertahta di meja kantorku.

“Green tea satu.”

Demi usaha keras bosku untuk menumbuhkan rambut di kepala botaknya, aku menoleh cepat ke arah sumber suara itu. Tempat dudukku yang memang bersebelahan dengan bar memaksaku untuk mengalihkan konsentrasi yang baru saja terkumpul pada pekerjaanku. Suara itu... astaga... begitu memikat dengan logat timurnya. Berat, namun sedikit serak. Sebaris kalimat itu membuat otakku menduga bahwa pria berkaos orange itu mungkin berasal dari pulau Sulawesi atau Lombok.

Sedetik setelahnya, sepasang mata dengan iris coklat gelap itu seakan mempergokiku karena sedari tadi telah mengawasinya. Oh Tuhan, jika saja aku tak menyadari warna matanya, aku pasti akan langsung bisa memalingkan muka. Tapi mengapa aku malah terpaku menatapnya?

Senyuman itu tercipta. Senyuman yang sedari awal aku pertanyakan bentuknya. Yah... senyuman itu untukku. Senyuman yang semakin membuatnya terlihat mempesona itu untukku. Dengan kesadaran untuk mengontrol diri yang masih tersisa, kukembangkan senyumku dengan ragu dan kaku. Di saat seperti ini, bisa-bisanya aku malah menambahi dengan sapaan singkat?

“Hai,” ucapnya membalas sapaanku, tentunya kali ini dengan senyum ramah yang lebih merekah dari sebelumnya.

It must be over!!

Aku menunggunya kembali ke tempatnya, namun aku tak benar-benar memandangnya lagi. Di dalam hati, aku menegaskan bahwa aku tak boleh membuat diriku malu lagi. Cukup dengan hal itu, yah  cukup dengan sapaan itu.

Setelah kupastikan dari sudut mataku dia sudah duduk, dengan segera aku meraih dan menata seluruh dokumen yang kuletakan di atas meja. Gerakanku cepat, namun kupastikan tidak terkesan terburu-buru. Setelah semuanya berada di dalam map, kututup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Bagaimanapun aku harus cepat pergi dari sini. Tak tahu di mana lagi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, yang penting aku harus pergi terlebih dahulu.

Aku keluar, setelah melewati pintu cafe, aku segera mencai kunci mobil di kantong tas ku.

“Kunci kamu.”

Aku menoleh cepat. Pria itu, pria yang membuatku gila hanya dalam beberapa menit itu berdiri di hadapanku. Kami berdiri begitu dekat, aku bahkan bisa mencium samar aroma parfumnya. Paco Rabbane.

“Eh.. Ma-makasih,” sahutku gagap. Ya Tuhan, seharusnya aku lebih bisa mengontrol diri.

“Sama-sama, Sarah.”

Aku mengerjap. Barusan dia memanggilku Sarah. Aku membuka mulut, mencari bagaimana susunan kata yang tepat untuk menanyakan bagaimana dia bisa tahu namaku.

“Gantungan kunci mobilmu,” jawab pria itu seolah-olah sudah membaca pikiranku.

Oh ya, gantungan kunciku.

Aku mengangguk paham. Ya, memangnya darimana lagi dia bisa tahu namaku? “Sekali lagi makasih ya...” Oke, kali ini giliranku yang harus menyebutkan namanya.

“Leo.”

“Ah ya.” Leo! Namanya Leo! Ya Tuhan... “Makasih, Leo. Aku emang lupaan kadang-kadang.”

Leo kembali tersenyum. Senyuman yang sama mempesonanya dengan yang tadi.

“Oke, aku harus pergi dulu,” ucapku memecah kesunyian yang sempat tercipta.

“Ya, hati-hati.”

Aku memutar badan. Berjalan kaku menuju mobil. Yah, bagaimana tidak kaku jika semua hal yang tidak terduga terjadi begitu cepat hari ini. Baru saja aku membuka pintu mobil, suara Leo yang memanggil namaku dan derap langkah yang mendekat membuatku kembali menoleh.

“Emmm...” Leo menggaruk kepalanya. Aku jadi sedikit ilfeel. Apa pria ini kutuan? “Kamu sering ke cafe sini kan?”

Aku mengangguk.

“Kalau misalnya sewaktu-waktu kita ketemu lagi buat ngobrol-ngobrol bareng bisa, kan?”

Aku ternganga. Tuhan... apakah telingaku tersumpal sesuatu?

“Emm.. gini. Aku kan baru tiga hari di kota ini, aku juga kadang nggak ngerti sama bahasa asli sini. Jadi kalau misalnya ketemu, trus kita ngobrol-ngobrol tentang kota ini boleh kan?” Senyuman Leo di akhir kalimat pria itu entah mengapa seperti memberitahuku bahwa aku harus bilang ‘iya’.

“Boleh. Lagian aku juga suka tempat ini.”

Leo tertawa. “Oke, kalau seperti ini kan aku nggak perlu sewa tour guide.”

Kali ini aku yang tertawa. “Aku nggak gratis loh yaaa...”

“Haha, iya aku tahu. Jadi kapan kira-kira kita bisa ketemu lagi di sini?”

Aku menelan ludah. Terkejut seklaigus berpikir. “Gimana kalau lusa? Saat makan siang.

“Usulan bagus.”

Aku tersenyum, semata-mata menutupi rasa gugupku.

“Lusa, makan siang. Aku traktir deh!” ucap Leo.

Aku hanya bisa mengangguk-angguk setuju. “Boleh. Oke, kalau begitu aku masuk dulu ya?”

Leo mengangguk. “Hati-hati.”

Setelahnya, aku masuk ke dalam mobil. Dari kaca spion, kulihat Leo malambaikan tangannya. Aku tersenyum. Memasukkan gigi, aku pun mulai menjalankan mobil.
.
.
.
Tuhan, hari ini serasa mimpi...
.
.

.

Minggu, 21 Juli 2013

I Can Feel Your :)

Kelas yang tidak terlalu luas, jumlah jendela yang sedikit, dan kipas angin yang menyala pelan. Oh... sungguh itu terasa menyiksa bagi Kirana, apalagi ditambah suara bising yang mendengung dari para teman-temannya yang entah membicarakan apa.

Hari ini jumlah mata pelajarannya tidak begitu banyak. Mendekati jam-jam terakhir seperti ini, merupakan hal wajar jika guru tidak masuk ke kelas untuk mengajar murid-muridnya. Alasannya sih banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan, lagi pula mereka juga memberikan catatan sebagai pengganti keabsenan mereka. Namun Kirana tak mau semudah itu mempercayainya. Bisa saja kan mereka belanja? Pergi ke salon? Tertawa-tertawa sambil menyeruput teh atau kopi? Pasti ada alasan lain selain alasan klasik itu.

Hahh... memang beginilah terlahir sebagai orang yang tidak mudah percaya. Selalu berpikir yang tidak-tidak.

Kirana mengubah posisi kepalanya yang ia letakkan di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, ia sedikit mengutuk nasibnya yang masuk ke jurusan broadcasting. Sebelumnya ia memilih jurusan desain, namun jumlah nilainya sama sekali tak mengijinkannya. Andai saja ia bisa masuk kelas desain, teman-temannya pasti tidak akan seberisik ini, karena menurut rumor, anak-anak jurusan desain cenderung sopan dibandingkan teman-temannya yang bisa dibilang sedikit bar bar.

Suara musik mellow yang mengalun keras dari ear phone yang terpasang di telinganya, membuat Kirana bisa merasa tenang. Ia bahkan mulai mengantuk dalam keadaan berisik seperti ini. Dengan mata yang mulai sayu, Kirana memperhatikan Mira yang tengah bergurau dengan teman sekelasnya yang lain.

Kirana menghela napas pelan. Akan sangat menyenangkan jika ia seperti Mira. Cewek manis berambut panjang yang kini menjadi teman sebangkunya itu memiliki kepribadian yang berbeda dengannya. Mira begitu menyenangkan bagi semua orang. Cewek itu selalu terlihat anggun, senyumnya juga terlihat menyenangkan. Dari selentingan kabar yang ia dengar, banyak anak-anak cowok di sekolahnya yang naksir Mira. Bahkan diantaranya adalah kakak kelas.

Sentuhan pelan di pundak Kirana tidak terasa nyata bagi cewek itu. Entah karena mengantuk atau memang tidak peka, Kirana tidak terlalu menanggapinya dan kembali mencoba untuk memejamkan matanya.

"Tau Mira nggak?"

Kali ini tidak ada yang tidak nyata. Suara itu bahkan sampai terdengar di telinga Kirana yang disumpal ear phone. Menegakkan tubuhnya malas, Kirana menunjuk posisi Mira berada tanpa repot-repot memandang dulu orang yang mengajaknya berbicara. "Di sana."

Kirana menegang saat mengetahui siapa orang yang berdiri di samping bangkunya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari keadaan normal. Mulutnya terbuka sedikit, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Alhasil, saat ia memanggil Mira, suaranya terdengar aneh. "Mir! Mira!" panggil Kirana sambil terus menatap orang itu.

Tak butuh panggilan ketiga untuk membuat Mira datang. Cewek itu langsung menghampiri Kirana dengan senyum manisnya. "Eh, Evan. Ada apa?"

Ah... Kirana langsung tahu kenapa Mira tersenyum seperti itu.

"Bisa nitip ini nggak?"

"Apa ini?" Mira ganti bertanya saat cowok yang bernama Evan itu menyodorkan sebuah kertas.

"Form pendaftaran ekskul panah. Kamu ikut kan?"

Mira mengangguk.

"Nanti aku ada seleksi ekskul sepak bola, jadi nggak bisa dateng buat ngasih itu."

Oke, Kirana mulai paham. Jadi Evan nitipin pendaftaran ekskul panah ke Mira karena cowok itu harus ikut seleksi ekskul sepak bola.

Tapi... kenapa harus Mira? Dan kenapa Evan langsung tahu Mira ikut ekskul panahan?

"Oke, titipin aku aja nggak papa. Nanti pasti aku sampaikan alasan kamu."

Untuk kedua kalinya setelah bertemu dengan Evan, Kirana melihat senyum cowok itu sekali lagi. Namun senyum kali ini bukan senyum geli yang ia lihat beberapa hari yang lalu.

"Thanks yah?" ucap Evan.

Mira mengangguk, tentu dengan senyumnya seperti biasa.

Saat itu, Kirana mengira Evan akan pergi begitu saja meninggalkan ruang kelasnya. Namun hal yang sebenarnya terjadi adalah Evan menyunggingkan senyum untuknya sambil menggumam kalimat pamit. Demi apapun yang membuat Kirana bete hari itu, Kirana merasa seperti ada sebuah benda yang menggeliat di perutnya. Jantungnya berdetak kian cepat, sedangkan pipinya terasa terbakar hingga ke belakang telinga.
.
.
Astagaa... perasaan apa ini?
.
.
.
"Kirana?"

Kirana menoleh cepat ke arah Mira. Sedikit gelagapan menanggapi cewek yang kini melihatnya heran itu. "Y-ya, Mir?"

"Kamu sakit? Wajahmu kok merah?"

Omaigad....

"Nggak. Enggak kok, Mir."

"Jangan bohong loh!" Mira mengacungkan jari telunjuknya ke arah Mira. "Daritadi kamu kelihatan lemes, kamu pusing yah?"

Kirana melepas ear phone-nya, mencari topik lain untuk dibicarakan. "Jadi kamu ikut ekskul panah?"

Mira terlihat curiga, mungkin karena Kirana yang tiba-tiba memutar arah pembicaraan. Tapi ujung-ujungnya, cewek itu toh menyahut juga. "Iya. Kamu jadi ikut apa?"

"Nggak tahu," jawab Kirana enteng. Ia memang malas mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. "Kamu suka panahan?"

Mira mengangguk. "Dari SMP."

Kirana mulai tergelitik pertanyaan yang tadi sempat muncul di pikirannya. "Trus kok cowok tadi nitip ke kamu? Kalian temenan?"

"Iya, Evan temen SMP-ku. Kita emang nggak seberapa deket sih, yah... tapi setidaknya kenal lah."

Oh... jadi seperti itu.

Jadi itu alasan mengapa Evan mempercayai Mira untuk menyerahkan form-nya, dan mengapa cowok itu langsung tahu Mira ikut kegiatan panahan.

Mereka adalah teman. Yah.. teman.
.
.
.
Mengetahui hal itu, entah kenapa Kirana merasa sedikit lega.
.
.
.

Minggu, 26 Mei 2013

"Kamu...?"

Untuk yang kesekian kalinya Kirana menghembuskan napasnya kasar. Hari ini adalah hari yang sangat tidak bersahabat baginya. Hari dimana ia memulai pengalaman baru sebagai siswa SMK, ternyata membuat dirinya semakin merasa asing seperti biasanya.

Kirana memperhatikan beberapa cewek yang sedang mengobrol sambil sesekali tertawa di meja kantin. Entah apa yang mereka bicarakan, Kirana tidak begitu tertarik. Tiga hari menjalani masa orientasi membuatnya sedikit mengenal para cewek-cewek itu. Banyak diantara mereka bertingkah sok pemberani dan sok pemberontak. Tidak ditunjukkan secara langsung pun, Kirana dapat memahami hal itu dari cara mereka berbicara. Klasik. Setiap orang pasti akan menunjukkan kesan mengagumkan tentang dirinya pada saat awal perkenalan. Kirana yakin, empat bulan setelah perkenalan awal, mereka pasti akan menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

Angin yang berhembus pelan mengibarkan rambut sebahu Kirana yang dikuncir satu di belakang rambutnya. Nyaman sekali duduk sendirian di bawah pohon seperti ini.  Walaupun sedari tadi banyak yang memandangnya heran, Kirana mencoba tak ambil peduli.

"Kirana?"

Kirana menoleh. Terlihat seorang cewek berambut panjang melambaikan tangan sambil mendekat ke arahnya. Wajah cewek ini tak asing bagi Kirana.

"Kamu ngapain di sini?"

Ooh... Kirana ingat. Cewek ini salah satu teman sekelasnya yang baru. Tapi siapa ya namanya? "Duduk-duduk aja cari angin."

Cewek itu ngangguk paham. Dia pun turut duduk di samping Kirana. "Mana Shasa?"

Kirana sedikit terkejut saat cewek di depannya ini menanyakan teman sebangkunya yang baru. Ia pun mengedikkan dagunya ke arah kantin. "Tadi dia di sana, tapi gak tau sekarang di mana."

"Kamu nggak ke sana?"

"Males."

"Kenapa?"

"Di sana rame banget. Eh, nama kamu siapa? Aku lupa." Bohong. Yang benar adalah tidak tahu, bukan lupa.

Cewek itu tersenyum. "Mira."

"Oh iya. Mira," ucap Kirana sambil menepuk jidatnya seolah-olah teringat sesuatu. Akting yang buruk.

"Trus kamu gak jajan nih? Lima menit lagi masuk kelas loh."

Kirana diam. Menimbang apa lebih mementingkan rasa malasnya untuk ke kantin, atau keadaan perutnya yang keroncongan.

"Kalau males ke kantin, kita cari di depan aja," ucap Mira seolah-olah paham tentang apa yang dipikirkan Kirana.

"Ada pentol gak sih di depan?"

"Ada. Cireng, batagor, otak-otak, siomay, semua ada."

Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung saja mengamit tangan Mira dan mengajak cewek itu pergi dari sana. Di pikirannya, kini terbayang rasa pentol yang sebentar lagi akan dia rasakan. Dikatakan maniak pentol pun, Kirana menerima julukan itu dengan senang hati karena memang begitulah sebenarnya.

Namun apa yang diharapkan Kirana tak seperti apa yang terjadi sekarang. Kirana pun berhenti tak jauh dari gerbang sekolahnya dengan masih memegang tangan Mira di belakangnya. "Nggak di kantin, nggak di sini, semuanya penuh orang, Mir."

Mira tak berkomentar, sedangkan Kirana masih setia meratapi nasib pentolnya. Masalah yang timbul masihlah sama. Keramaian. Entah kenapa Kirana membenci hal itu. Sekarang apa yang bisa ia lakukan? Menoleh kesana-kemari pun percuma. Yang sempat terlihat dalam penglihatan Kirana malah seorang cowok yang berjalan mendekati Mira, tapi cewek berambut sebahu itu tidak ingin memikirkan hal itu. Perutnya sudah keroncongan minta diisi.

Pandangan Kirana beralih ke penjual otak-otak yang sepi pembeli. Kali ini bentrok dua kubu seakan bergejolak di pikirannya. Di satu sisi ia tidak terlalu menyukai otak-otak, tapi di sisi lainnya lagi merasa sangat lapar. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, kalau Kirana terus berdiri di sini sambil menunggu gerbang sekolahnya sepi, mustahil ia akan bisa masuk kelas tepat waktu.

Setelah menentukan pilihan akhirnya, Kirana kembali menarik tangan Mira dan menarik tangan teman barunya itu tanpa menoleh. Hatinya dengan mantap memilih otak-otak sebagai penghilang laparnya.

"Beli otak-otak aja, Mir! Nungguin pentol kelamaan," cerocos Kirana. Di belakangnya, Kirana tak mendengar Mira berkomentar. Kirana pun mempercepat langkahnya. Entah mengapa Kirana merasa Mira lebih berat dari sebelumnya.

"Otak-otak satu pedas, Pak," pesan Kirana. Cewek itu mengibaskan kunciran rambutnya yang sedikit lepek karena keringat. Di sebelahnya, Mira tidak mengatakan apapun, dan itu menarik perhatian Kirana yang sedari tadi sedikit merasa heran.

"Kamu nggak pes-en, Mir?" suara Kirana tenggelam di dua suku kata terakhir. Kali ini ia sudah benar-benar membalikkan badannya, namun apa yang ia lihat sekarang membuat seluruh tulangnya seakan lumpuh seketika.

Sosok yang Kirana lihat sekarang tengah melipat kedua tangan di depan dada dan terus memandang Kirana yang lebih pendek darinya. "Mira gak suka otak-otak. Dia maunya batagor."

Langsung saja Kirana mundur selangkah. Dia masih tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Kenapa bukan Mira? Kenapa seorang cowok yang nggak Kirana kenal? Dan bodohnya kenapa Kirana baru menyadarinya sekarang? Dilihatnya tempat dimana Mira berdiri sedari tadi. Cewek berambut panjang itu hanya menutup mulutnya sambil memandang kaget ke arah Kirana. Di dalam hati, Kirana ingin sekali menggigit Mira. Bisa-bisanya temannya itu hanya diam saja dan membiarkannya berada dalam posisi memalukan seperti ini?

"Tuh, otak-otakmu!"

Lagi-lagi Kirana terlihat linglung. Ia pun mengambil bungkusan otak-otak yang ia pesan dengan kaku layaknya robot yang tidak berpelumas. "Enggg... anu..." Entah kenapa susah sekali permintaan maaf itu terucap.

"Anu apa?"

"M-maaf ya?"

Cowok itu tiba-tiba tersenyum, entah karena apa. Wajahnya yang sedari tadi terlihat kaku, kini terlihat sumringah. "Lain kali noleh dulu sebelum narik tangan orang." Setelah mengatakan itu, cowok tersebut pergi begitu saja dan meninggalkan Kirana yang masih terpaku. Bener-bener deh, Kirana terlihat begitu konyol sekarang.

"Kirana?"

Panggilan Mira dari jauh segera membuat perhatian Kirana teralih dari punggung cowok itu. Terlihat di sana Mira tengah melambai-lambaikan tangan dan menyuruh Kirana untuk cepat menghampirinya. Tak banyak berpikir, Kirana pun melangkahkan kakinya menghampiri Mira.

Namun sekali lagi Kirana menoleh ke punggung cowok tadi. Punggung itu kini sudah tak terlihat karena banyaknya punggung yang lain di sana. Entah kenapa, tiba-tiba Kirana sungguh ingin melihat punggung itu lagi.
.
.
.
Ah, siapa ya nama cowok itu?
.
.
.
.





Rabu, 03 April 2013

Saya Tidak Ingin Menyesal

Entah ini bisa disebut galau atau apa. Jalan yang saya pilih ternyata mampu merubah pola dan gaya hidup saya. Walaupun masih belum sepenuhnya, sedikit perasaan khawatir tiba-tiba terselip di dalam lubuk hati saya.

Selama ini saya hidup bebas dari apa yang disebut dengan 'konflik.' Sebagaimana yang tertera di bio, saya adalah orang yang cinta akan kedamaian. Saya tidak terlalu ingin memikirkan apa yang diperbuat orang lain.
Selama itu tidak terlalu mengganggu dan merugikan saya, saya tetap akan mengacuhkannya seperti tidak terjadi apa-apa. Namun ketika saya memilih hal yang saya sendiri tidak tahu alasan mengapa saya memilihnya, semuanya terasa berubah. Pribadi saya yang mungkin terlalu pengecut untuk mencari kesalahan orang lain, kini harus terpaksa hilang karena pilihan saya sendiri.




Saya tidak munafik. Sampai saat ini, saya belum menemukan hal apa yang akan membuat saya tetap konsisten di jalan yang telah saya pilih. Sempat terbesit sebuah pemikiran bahwa saya akan hengkang dari sana, namun sekali lagi ego saya yang mematahkan semuanya.

Sepanjang delapan belas tahun hidup saya, saya selalu mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Memang sudah banyak hal yang saya pelajari, namun tetap saja terasa kurang. Mungkin untuk sekarang ini, tanggung jawab adalah adalah ujian terberat yang harus saya laksanakan.

Apa yang sebelumnya pernah saya ungkapkan sebelum melangkah masuk, kini terasa bomerang bagi saya sendiri ketika saya ingin melangkah keluar. Pasti akan terasa seperti menampar wajah saya sendiri di depan banyak orang jika saya tetap menguatkan hati untuk melakukannya. Dan saya merasa, saya tidak akan sanggup menanggung malu kepada diri saya sendiri. Bukan rasa malu kepada orang lain, tetapi kepada diri saya sendiri karena saya bukan orang yang akan menyusahkan saya sendiri untuk memikirkan malu kepada orang lain.




Saat ini saya terlalu takut untuk mengatakan sebaris kalimat penyesalan. Saya tetap tidak ingin menyesal, namun hati saya tidak dapat terbohongi. Apa yang saya lihat sebelumnya sungguh berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang. Dan itulah salah satu alasan kekerasan kepala bagi 'hati' saya untuk tetap mengatakan 'menyesal.'

Walaupun belum benar-benar merasakannya di dalam hidup saya, saya percaya bahwa hal apa saja yang kita kerjakan pasti akan memiliki sisi negatif dan positifnya. Dan apa yang kita kerjakan sekarang, pasti akan membawa manfaat di masa depan jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sama seperti matahari yang membawa cahaya ketika terbit, saya percaya bahwa apa yang saya lakukan sekarang pasti akan membawa cahaya di kehidupan saya yang akan datang.




Apapun yang terjadi, saya sudah bertekad untuk terus melangkah di jalan yang sekarang saya tempuh. Saya tidak ingin memikirkan hal-hal negatif yang mungkin akan saya dapatkan dan berdampak buruk bagi hati saya. Yang ingin saya tanamkan di dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya mendapatkan banyak hal positif yang bisa saya temukan di jalan saya yang sekarang.

Saya bisa. Saya percaya...


-RAWKS-

Selasa, 15 Januari 2013

Saya Patah Hati, Tapi Saya Bahagia


Malam-malam seperti ini, tangan saya terasa sangat gatal untuk tidak mengutarakan unek-unek saya yang sudah saya pendam sejak lama. Saya sedih, pengen nangis, tapi juga pengen tersenyum bahagia di saat bersamaan. Sosok lelaki yang saya idam-idamkan dalam hidup saya sejak di bangku SMP telah memilih untuk bersanding dan memulai kehidupan dengan wanita lain. Wanita yang jauuuuh lebih pantas dari saya. Secuil kukunya pun saya gak ada apa-apanya.

Memang udah lumayan lama sih, sekitar hampir tiga bulan yang lalu. Pertama kali saya denger berita kalau dia akan menikah dengan wanita pilihannya, saya syok. Saya nggak tahu harus ngomong apa. Saya sedih dan pengen nangis, tapi juga bahagia karena kebahagiaannya. Beberapa hari saya lalui dengan perasaan yang gak enak banget. Gimana nggak enak kalau dia mengumumkan pernikahannya secara tiba-tiba? Saya pun nggak tahu kalau selama setahun ini dia udah punya pacar.


Lihat, masa kecilnya aja udah nge-gemesin kan?
Bikin 'nyehhh'




Dan ini lah 'dia'....




Banyak orang yang menertawakan saya ketika dia menikah. Di antaranya teman-teman yang sudah paham abis tentang saya. Ibuk saya pun juga demikian :(
Setelah dia menikah, hidup saya serasa hampa *ngusep ingus



Sekarang udah bukan 'Calon Bini' lagi :(



Saya paham alasan mengapa berita pernikahan mereka terkesan mengejutkan. Menurut saya Vino bukanlah artis yang suka menggembar-gemborkan berita. Dia termasuk orang yang 'talk less do more', dia juga jarang terkena gosip seperti artis kebanyakan, maka dari itu sekali ada berita tentang dia nikah, semuanya langsung heboh. Hiks... termasuk saya T.T






Tapi yang seperti saya bilang tadi, saya bahagia atas pernikahan keduanya. Marsha Timothy juga orang yang tepat untuk idola saya. Saya selalu berharap kalau mereka bisa bahagia bersama hingga maut yang memisahkan mereka. Saya nggak bisa bayangin anak-anak mereka nanti bagaimana. Aiiihhhh.... pasti lucu-lucu, bapaknya ganteng, mamanya juga cantiiiiik >.<



Wish you are the best, guys.
Jadilah keluarga sakinah, mawadah, dan waROCKSmah.




Yang kedua, saya kembali dibuat patah hati oleh seorang pria. Walaupun keberadaan pria ini di hati saya tidak selama Vino Bastian, saya tetap iri ketika melihat fotonya dengan sang istri. Huuuuu T.T

Oguri Shun as Takiya Genji



Saya jatuh cinta pertama kali sama orang itu ketika temen saya nyodorin film Crows Zero 2 beberapa bulan terakhir. Dan... ahhhhh >.< saya langsung terpesona sama dia. Dari situ saya getol mencari tahu tentang dia. Mulai dari nama lengkap, umur, karir, bahkan sampai golongan darah. Beneran deh... saya kelepek-kelepek sama pesona dia.


Tapi.... dia udah nikah T.T



Nama istrinya Yamada Yu, dia seorang model dari Jepang. Oguri Shun sudah mendaftarkan pernikahannya sejak Maret 2012, tapi baru menyelenggarakan resepsi pernikahannya 5 Januari kemarin di Hawai. Gilaaaa... bahagia banget pasti mereka T.T
Tapi sebagaimana Vino Bastian, aku turut bahagia juga atas pernikahan Oguri Shun. Walaupun aku baru mengidolakannya, dan terlambat mengetahui berita tentang pernikahannya, aku selalu mendoa'akan yang terbaik untuk Oguri Shun dan Yamada Yu.



Bahagia selalu yaaahh....



Melihat dua pria di atas, entah mengapa menurut saya mereka memiliki beberapa kemiripan dalam hal berbeda. Mungkin itu juga kali yah yang bikin saya mengidolakan keduanya, karena mereka berdua memang tipe saya >.<



Vino Giovanni Bastian




Oguri Shun



They're so hot, right? >.<
Yang pertama, keduanya merupakan aktor muda yang mempunyai karakter akting yang tidak kalah memukau dari senior-senior mereka. Mereka juga sangat totalitas ketika memerankan sebuah karakter di semua karya mereka, baik itu mini seri, maupun layar lebar. Untuk Vino, saya tahu dia sudah meraik banyak penghargaan di dunia akting, tapi untuk Shun saya tidak tahu sama sekali. Tapi saya percaya kalau dia termasuk salah satu jajaran aktor Jepang yang patut diacungi jempol. Menurut saya Vino dan Shun cucok diberi peran anak berandalan, hehe. Tapi polisi dan pengusaha juga bagus. Aiiihhhh.... semuanya bagus deh kalau mereka yang peranin >.<

Kedua, mereka sama-sama lahir di tahun yang sama >.<
Sekarang umur mereka sudah 30 tahun. Kalau Vino 24 Maret, Shun 26 Desember. Duhhh... mereka berdua tidak terlihat seperti umur mereka, hihihihi.
Sama seperti Vino, Shun punya kulit yang bersih dan postur tubuh tinggi yang menawan, Shun mungkin malah lebih tinggi dari Vino. Aku paling suka kalau melihat punggung keduanya dari belakang  >.< Tak ada kata yang pas kecuali 'seksi' hahahahahaha...

Yang ketiga, mereka menikah di tahun yang sama T.T
Untuk masalah ini saya nggak mau jelasin panjang lebar. Saya nggak sanggup *sesek napas

Tapi yang jadi perbedaan mereka adalah gaya hidup. Menurut ceritanya sendiri Vino bukanlah orang yang suka merokok, apalagi minum-minum. Yang dilihat oleh semua orang selama ini ketika di film hanyalah untuk keperluan akting, bahkan ketika  bermain film 'Realita Cinta dan Rock n Roll', Vino baru belajar merokok saat itu, dan saya mempercayainya :)
Untuk skandal, Vino memang pernah menjalin cinta dengan salah satu sutradara kece Upi Avianto. Hubungan mereka memang sudah diketahui media, tapi setelah sekian lama mereka tidak tampil bareng di layar kaca, tau-tau Vino sudah mengumumkan berita pernikahannya dengan Marsha Timothy.

Kalau Shun orang yang perokok berat. Dia juga nggak bisa lepas dari sake --"
Shun ini katanya juga termasuk salah satu aktor 'bad boy' di Jepang. Dia pernah bawa cewek ke apartemennya dengan posisi dia sudah pacaran dengan Yu *pingsan
Tapi mungkin itu salah satu perjalanan cerita cinta mereka sebelum mereka benar-benar sudah bersatu seperti sekarang.




Betapa indahnya dunia jika memiliki dua suami seperti mereka >.<

Vino G. Bastian & Marsha Timothy



Oguri Shun & Yamada Yu


Saya patah hati, tapi saya bahagia atas kebahagiaan dua idola saya :)



-RAWKS-

Sabtu, 08 Desember 2012

I HAVE TO REACH MY DREAM

Bertambah umur harusnya bisa membuat saya lebih dewasa lagi dalam mengatasi masalah. Selain itu saya juga harus lebih kuat dan nggak gampang menyerah sebelum bertempur. Hmmm... terkadang saya bingung dengan pola pikir saya sendiri. Menurut saya, saya adalah orang yang tidak mempunyai komitmen yang cukup tinggi.

3 Desember kemarin umur saya bertambah menjadi 18 tahun. Setidaknya saya harus menjadi pribadi yang lebih baik di umur yang sekarang. Keuletan, komitmen, mimpi... apapun itu, harusnya lebih baik dari umur sebelumnya. Tapi nggak tau kenapa kok rasanya saya ini malah down yah? Semacam hilang kepercayaan diri sebelum mewujudkan keinginan saya satu per satu. Dari sisi lingkungan, ada beberapa pihak yang mendukung saya dan memacu saya, namun di sisi satunya lagi malah membuat saya melupakan impian saya satu per satu.

Terkadang kalau saya benar-benar menyerah akan mimpi saya, saya akan membukanya lagi. Mengumpulkan semangat hingga saya memiliki kekuatan untuk melumpuhkan rasa menyerah saya. Tapi itu hanya berlangsung sekejap. Sama sekali tidak lama, dan sama sekali tidak membantu saya untuk bergerak walau hanya satu langkah.

Jika seperti ini, saya berpikir apakah saya perlu motivator? Setidaknya, selalu ada orang yang mengingatkan san mendukung saya. Hmmm... kayaknya sekarang saya nggak bakalan sanggup untuk membayar Mario Teguh mengeluarkan mantranya walau hanya satu episode. Lalu apa? Sedemikian perlukah saya akan keberadaan seorang motivator?

Mungkin tidak.

Tulisan saya bisa jadi motivator saya. Tulisan saya adalah refleksi dari apa yang saya renungkan dan inginkan. Jadi Amel, jika kau ingin menyerah atau bahkan sudah merasa menyerah, ingatlah janji yang kau ucapkan di bawah ini.



"AKU, SEORANG AMALIA IRAWATI, AKAN SELALU BERUSAHA MENCAPAI SEMUA IMPIANKU SATU PER SATU. TIDAK ADA KATA MENYERAH, YANG ADA HANYALAH TERUSLAH BERUSAHA. BUATLAH BANGGA ORANG-ORANG YANG MENYAYANGIMU, DAN BUATLAH TERPACU UNTUK ORANG-ORANG YANG BELUM MENYAYANGIMU."



-RAWKS

Senin, 26 November 2012

Suroboyo dan JANCOK-nya

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota ini juga merupakan ibu kota dari propinsi Jawa Timur. Jika bicara tentang Surabaya, pasti yang terngiang pertama di otak kita adalah Kota Pahlawan. Mungkin selain sebutan itu, hal yang terlintas di otak kita ketika mendengar nama Surabaya adalah Suramadu, rujak cingur, Bonek, dan masih banyak. Yaah, saya membenarkan itu semua karena Surabaya memang identik dengan hal itu.

Namun jika kita mengenal Surabaya lebih dalam lagi, kita akan menemukan satu kata yang sangat khas dengan kultur arek-arek Suroboyo. Sudah menemukan jawabannya? ;) Sebutin aja! Nggak usah berpikiran dosa, toh kita nyebutinnya nggak ada niat jelek toh? ;)

Bagi yang udah tahu, selamat! Tapi yang belum tahu, jawabannya adalah...

JANCOK

Nggak ada yang tahu secara resmi kata Jancok itu dibawa oleh siapa, lahir tahun berapa, kapan mulai ada dan asal mulanya bagaimana. Yang saya tahu bahwa, Jancok itu tumbuh dan menjadi trademark orang Surabaya. Namun ada yang mengatakan bahwa kata Jancok berasal dari kata 'encuk' yang berarti bersetubuh.

Banyak orang yang mengasumsikan bahwa kata Jancok itu adalah salah satu kata yang kasar, kata umpatan yang sama sekali tidak sopan dan tidak baik untuk diucapkan maupun didengar. Tak ada yang salah dengan asumsi mereka, toh itu semua memang hak mereka sendiri. Saya pun kadang juga berpikiran sama. Kadang kata Jancok itu terucap jika kita dalam posisi marah ataupun jengkel. Namun jika saya berkumpul dengan teman saya, entah mengapa saya merasa Jancok itu menjadi pengerat hubungan pertemanan.

Kata Jancok itu nggak selamanya bikin orang yang mendengarnya risih. Ada kalanya Jancok terdengar begitu indah (?) ketika diiringi gelak tawa orangnya. Karena tak jarang  pula Jancok diucapkan ketika seseorang tengah merasa geli akan suatu hal, ataupun ketika bahagia.

Surabaya dan Jancok itu adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Tak akan ramai jika tak ada Jancok di Surabaya, dan tak akan ada Jancok jika tidak ada Surabaya. Jika di lain kota kita terbiasa mendengar anak-anak remaja menyapa temannya dengan sapaan 'bro, man, sis, cuy' di Surabaya akan terdengar alunan kata yang sangat khas, seperti "He yok opo kabare, Cok? Sek urip ae kon, Cok. Suwi gak ndelok raimu, Cok." Terdengar sangat kasar ya? Memang. Orang Surabaya terkenal dengan bahasanya yang kasar dan intonasi yang tidak bisa dibilang wajar. Namun sebagai orang yang dikatai seperti rentetan kata kasar di atas, biasanya tidak akan marah. Banyak diantaranya yang tersenyum, bahkan ketawa, karena yang disapa adalah temannya sendiri, jadi pasti tidak akan marah. Hehehehehe

Jancok telah menyebar di kota-kota bahkan propinsi lainnya. Tak hanya sampai Jawa Timur saja, propinsi lain pun sudah mengenal kata yang cukup khas dari Surabaya ini.
Sekian



RAWKS